*Dedy Ahmad Hermansyah
--sebuah wawancara imajiner--
Perjalanan ini semakin mendekatkanku padamu. Bung, aku datang membawa setumpuk kerinduan, juga pertanyaan-pertanyaan yang barangkali sudah sering kau dengar dari para peneliti, wartawan, anak-anak muda yang mendatangi rumahmu. Barangkali Bung sudah menyiapkan sekian jawaban yang sama untuk pertanyaan yang itu-itu juga. Melulu perihal luka-lukamu di masa lalu, cita-citamu yang membiru, dan segenap harapanmu untuk generasi muda yang semakin kukuh.
--sebuah wawancara imajiner--
Perjalanan ini semakin mendekatkanku padamu. Bung, aku datang membawa setumpuk kerinduan, juga pertanyaan-pertanyaan yang barangkali sudah sering kau dengar dari para peneliti, wartawan, anak-anak muda yang mendatangi rumahmu. Barangkali Bung sudah menyiapkan sekian jawaban yang sama untuk pertanyaan yang itu-itu juga. Melulu perihal luka-lukamu di masa lalu, cita-citamu yang membiru, dan segenap harapanmu untuk generasi muda yang semakin kukuh.
Bung, lima
belas menit lagi aku tiba di hadapan pagar rumahmu. Rumahmu telah lama bermukim
di kepalaku. Foto-foto dan video yang banyak tersebar di dunia maya-lah yang
membangunnya. Tiga tingkat kan? Menjulang berwarna biru langit, kokoh—persis
seperti gambaran dirimu di dalam otakku.
Rumah itu,
barangkali bukanlah rumah yang benar-benar kau impikan. Ia hanya satu usaha pembuktian
kepada mereka yang meremehkanmu—Bung bisa bangkit dan membangun rumah meski
berpuluh tahun menderita.
Ah, Bung, aku
jadi teringat dengan penjelasan seorang sejarawan muda tentang rumah dalam
kehidupanmu. Ia katakan, Bung sedari kecil telah memimpikan rumah dalam dua
pengertian: ruang dan fisik (home dan house). Sialnya, Bung terseok-seok membangunnya.
Sepanjang umurmu, rumah dalam dua pengertian ini kacau balau, dihantam badai,
dihancurkan oleh orang-orang yang tak punya jiwa peradaban tinggi.
Bung lahir di Blora, tapi kemudian pindah ke Jakarta. Bung punya ingatan yang memilukan saat mengenang Ayah dan Ibu Bung. Bung ditempa oleh kerasnya kehidupan di masa kecil, dipertajam untuk cinta kepada keadilan. Rumah masa lalu itu begitu buram dan muram.
Bung menulis,
berfikir, bercita-cita tentang Indonesia yang semestinya. Tak berhenti di situ,
cita-cita itu Bung perjuangkan. Dalam usaha perjuangan itu, musuh-musuh berdiri
garang di hadapan Bung. Dengan kesadaran dan atas nama kewajiban nasional, Bung
terus bergerak maju.
Hingga satu
peristiwa paling memilukan terjadi di tanah air Indonesia ini. Itu pada tahun
1965. Seluruh bangunan rumah dalam dua pengertian itu hancur perlahan-lahan.
Puing-puingnya menjadi luka yang terus Bung bawa ke tempat pengasingan Bung.
Rumah yang Bung bangun dirampas tentara. Istri dan anak-anak Bung terlantar
mencari rumah—rumah tempat berteduh dan rumah yang adalah Bung sebagai
bagiannya.
Matahari sebentar lagi pulang. Aku sudah mendekati rumah Bung. Kepala terasa berat. Ada yang hendak meledak di sana. Barangkali sejenis kegembiraan yang berlebihan! Ah, akankah senyum dengan tawa kecilmu Bung yang akan diberikan kepadaku? Semoga saja!
Aku tiba Bung.
Aku sudah membayar taxi. Barang-barangku—tas hitam besar dengan sebungkus
plastik berisi hadiah kecil—sudah kuturunkan. Iya, alamatnya benar: Jl. Warung
Ulan No. 9 Bojonggede, Bogor. Begitu yang tertera di plang yang melekat di
tembok pagar rumah Bung. Nah, sekarang seorang perempuan tua berkaca mata
mendatangi pagar. Senyumnya ia pasang. Ia membuka pintu pagar:






