Kamis, 28 September 2017

Iman, Imam dan Umat

*Maia Rahmayati




Berkesempatan mengantar rombongan yang hendak memulai salah satu program penting dalam bidang desain tata ruang. Salah seorang diantara mereka adalah Bule asal Selandia Baru, yang menjadi konsultan spesialisnya. Kurang dari Empat jam saat berada di Kota Praya. Ia tak hentinya mengagumi keindahan kubah Masjid Agung yang berada tepat di tengah kota. Pun dengan ungkapan kekagumannya pada keberadaan Islamic Center di Kota Mataram. “Dari atas pesawat saya melihat Lombok ini seperti miniatur yang  indah” ucapnya.

Secara umum Ia terpukau pada bangunan masjid yang disaksikannya. Pada beberapa tempat di Indonesia yang ia kunjungi. Pulau Lombok,  menurutnya adalah termasuk yang unik dan sangat menarik. Lantas  ia membandingkan kondisi tersebut dengan kota-kota di negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam yang pernah Ia kunjungi, seperti di Iraq, Iran, Palestina. Menurutnya, kubah-kubah Masjid di Lombok, jauh lebih baik secara desain, pilihan  warna dan detail arsitekturnya. Saat itu, saya hanya senyum-senyum. Semacam ada rasa bangga mendengar rangkaian ceritanya.


Esok harinya, dalam laman koran yang saya baca. Berita yang sungguh mencengangkan. Tentang tertangkapnya oknum pencuri kotak amal Masjid di salah satu desa (masih di Lombok Tengah). Beritanya, beberapa dimuat dihalaman pertama, bahkan dua hari berturut-turut. Pelaku yang juga berasal dari kabupaten yang sama. Jika dilihat, sangat tak seberapa antara jumlah uang yang tersimpan dalam kotak amal masjid yang dicurinya dengan konsekwensi yang harus diterima.  Total uang sekitar 600 ribu, sebagian besarnya adalah pecahan uang koin dan nominal dibawah puluhan ribu. Pencuri yang konon berpura-pura solat Duha, lalu menggondol uang amal di rumah ibadah. Rasa-rasanya, siapapun seolah-olah berhak marah atas tindakannya. Maka jadilah ia bulan-bulanan, babak belur dihakimi massa.

Apa yang dapat menjelaskan hubungan antara dua realita di atas? Antara kekaguman pada identitas simbol keagamaan dengan moralitas seseorang? Antara bangunan tempat ibadah yang megah dengan penghakiman? Antara keimanan dan moralitas? Tak pernah ada yang dapat membenarkan tindak pencurian, hatta alasannya untuk bertahan dari tuntutan hidup untuk sekedar makan. Apalagi sampai mencuri di rumah Tuhan. 

Epilog penulis buku “Keyakinan kita yang mulia tidak pernah menjadi dasar yang kuat di dalam cara kita memandang dunia, dan sikap laku kia sehari-hari”. Tidak saja menjadi gambaran umum pada tataran konsep isi buku, pun sebagai kalimat kritik penulis terhadap realitas sosial yang dituangkannya dalam judul dan isi tulisan. Yang terasa sangat dekat dengan apa yang mewakili kata “kita” pada kalimat di atas, namun begitu jauh dalam tataran membangun kesadaran kolektif kita. Hubungan Manusia dengan Tuhannya, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya.  

Pilihan judul sebagai representasi isi buku, menurut saya menggungah rangkaian fakta keseharian yang kita hadapi. Mengambil gambaran representasi pulau Lombok sebagai geografis serta pola perilaku masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Pun dengan sematan Pulau Seribu Masjid. Nampaknya boleh dikata layak untuk merenungkan kembali mengenai indikator-indikator yang sekiranya absah untuk dijadikan alasan mengapa misalnya;  daerah yang masuk dalam daftar antri panjang kuota haji, pun pada waktu yang sama rilis Badan pusat statistik menyatakan prosentase kemiskinan masih mencapai angka 16,54 persen tahun ini.

Pun pada konteks bagaimana gambaran pembangunan dan realitas yang dihadapi masyarakat. Terasa, ada unsur-unsur yang mulai alfa dalam proses memaknai sisi nilai keagamaan dengan harapan pendidikan warga. Keberadaan tokoh agama yang nampak meninggalkan gairah kolektif dalam bingkai kebersamaan, persatuan dan membangun jiwa sosial. Lambat laut terasa seolah lebih memilih untuk merasa lebih penting merawat kelompok dan jamaah dalam lingkup yang lebih politis. Tidak keliru, hanya saja terasa belum imbang pada tataran relasi sosial. Dampaknya, hubungan sosial lebih rentan pada rasa saling mencurigai, umat yang lebih rentan tersulut emosi. Dibanding mengedepankan nilai toleransi.

Kiranya buku ini, tidak menyebut secara eksplisit mengenai makna dan definisi nilai, moral, keyakinan, dan arti-arti yang konkrit pada pengertian kerangka keagamaan. Namun dalam rangkaian tulisan, penulis menjabarkan tentang pengalamn-pengalaman, perjalanan, pemaknaan dalam realitas keseharian. Membaca buku dengan gaya tulisan yang ringan namun tajam. Kritik yang dituangkan secara santun pada contoh tingkah laku keseharian. 
Pembaca seolah diajak untuk mengenali, memaknai kembali, melihat realitas yang sesungguhnya tak berjarak selama ini, namun luput dari cerminan kita sendiri. Membaca buku ini, diam-diam, kita seolah berada pada ruang wisata hati. Antara persinggungan dan kerelaan kita menerima ketersinggungan sebagai cara refleksi. Tulisan yang dikemas apik pada akhirnya kita akan banyak berkata “Nah !! inilah masalah dan fakta selama ini”.

Peringatan dan saran; Jika anda tidak cukup kuat mental untuk menerima kritik sebagai ruang pembelajaran. Membaca buku ini, sebaiknya cukup menjadi cita-cita, sampai anda siap pada waktunya.**






Judul Buku   : Dua Kubah Di Gang Yang Sama
Penulis                      : Samsul Bahri
Penerbit        : Arga Puji Press Mataram Lombok dan Pustaka Lokantara
Cetakan pertama     : April 2015
Dimensi                     : 189 halaman. 18,5 cm x 12,5 cm


*******

*Maia Rahmayati. Peneliti Sosial Budaya pada Institut Studi Krisis dan Perdamaian- inSKRIP NTB.


­­

Tidak ada komentar:

Posting Komentar