*Maia Rahmayati
Berkesempatan
mengantar rombongan yang hendak memulai salah satu program penting dalam bidang
desain tata ruang. Salah seorang diantara mereka adalah Bule asal Selandia
Baru, yang menjadi konsultan spesialisnya. Kurang dari Empat jam saat berada di
Kota Praya. Ia tak hentinya mengagumi keindahan kubah Masjid Agung yang berada
tepat di tengah kota. Pun dengan ungkapan kekagumannya pada keberadaan Islamic
Center di Kota Mataram. “Dari atas pesawat saya melihat Lombok ini seperti
miniatur yang indah” ucapnya.
Secara
umum Ia terpukau pada bangunan masjid yang disaksikannya. Pada beberapa tempat
di Indonesia yang ia kunjungi. Pulau Lombok, menurutnya adalah termasuk yang unik dan
sangat menarik. Lantas ia membandingkan
kondisi tersebut dengan kota-kota di negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam
yang pernah Ia kunjungi, seperti di Iraq, Iran, Palestina. Menurutnya,
kubah-kubah Masjid di Lombok, jauh lebih baik secara desain, pilihan warna dan detail arsitekturnya. Saat itu, saya
hanya senyum-senyum. Semacam ada rasa bangga mendengar rangkaian ceritanya.
Esok
harinya, dalam laman koran yang saya baca. Berita yang sungguh mencengangkan. Tentang
tertangkapnya oknum pencuri kotak amal Masjid di salah satu desa (masih di
Lombok Tengah). Beritanya, beberapa dimuat dihalaman pertama, bahkan dua hari
berturut-turut. Pelaku yang juga berasal dari kabupaten yang sama. Jika
dilihat, sangat tak seberapa antara jumlah uang yang tersimpan dalam kotak amal
masjid yang dicurinya dengan konsekwensi yang harus diterima. Total uang sekitar 600 ribu, sebagian
besarnya adalah pecahan uang koin dan nominal dibawah puluhan ribu. Pencuri
yang konon berpura-pura solat Duha, lalu menggondol uang amal di rumah ibadah.
Rasa-rasanya, siapapun seolah-olah berhak marah atas tindakannya. Maka jadilah
ia bulan-bulanan, babak belur dihakimi massa.
Apa
yang dapat menjelaskan hubungan antara dua realita di atas? Antara kekaguman pada
identitas simbol keagamaan dengan moralitas seseorang? Antara bangunan tempat
ibadah yang megah dengan penghakiman? Antara keimanan dan moralitas? Tak pernah
ada yang dapat membenarkan tindak pencurian, hatta alasannya untuk bertahan dari
tuntutan hidup untuk sekedar makan. Apalagi sampai mencuri di rumah Tuhan.
Epilog
penulis buku “Keyakinan kita yang mulia tidak pernah menjadi dasar yang kuat di
dalam cara kita memandang dunia, dan sikap laku kia sehari-hari”. Tidak saja
menjadi gambaran umum pada tataran konsep isi buku, pun sebagai kalimat kritik
penulis terhadap realitas sosial yang dituangkannya dalam judul dan isi
tulisan. Yang terasa sangat dekat dengan apa yang mewakili kata “kita” pada
kalimat di atas, namun begitu jauh dalam tataran membangun kesadaran kolektif
kita. Hubungan Manusia dengan Tuhannya, dengan sesama manusia, dan dengan alam
sekitarnya.
Pilihan
judul sebagai representasi isi buku, menurut saya menggungah rangkaian fakta
keseharian yang kita hadapi. Mengambil gambaran representasi pulau Lombok
sebagai geografis serta pola perilaku masyarakat yang mayoritas beragama Islam.
Pun dengan sematan Pulau Seribu Masjid. Nampaknya boleh dikata layak untuk merenungkan
kembali mengenai indikator-indikator yang sekiranya absah untuk dijadikan
alasan mengapa misalnya; daerah yang
masuk dalam daftar antri panjang kuota haji, pun pada waktu yang sama rilis
Badan pusat statistik menyatakan prosentase kemiskinan masih mencapai angka
16,54 persen tahun ini.
Pun
pada konteks bagaimana gambaran pembangunan dan realitas yang dihadapi
masyarakat. Terasa, ada unsur-unsur yang mulai alfa dalam proses memaknai sisi
nilai keagamaan dengan harapan pendidikan warga. Keberadaan tokoh agama yang
nampak meninggalkan gairah kolektif dalam bingkai kebersamaan, persatuan dan
membangun jiwa sosial. Lambat laut terasa seolah lebih memilih untuk merasa
lebih penting merawat kelompok dan jamaah dalam lingkup yang lebih politis.
Tidak keliru, hanya saja terasa belum imbang pada tataran relasi sosial.
Dampaknya, hubungan sosial lebih rentan pada rasa saling mencurigai, umat yang
lebih rentan tersulut emosi. Dibanding mengedepankan nilai toleransi.
Kiranya
buku ini, tidak menyebut secara eksplisit mengenai makna dan definisi nilai,
moral, keyakinan, dan arti-arti yang konkrit pada pengertian kerangka keagamaan.
Namun dalam rangkaian tulisan, penulis menjabarkan tentang pengalamn-pengalaman,
perjalanan, pemaknaan dalam realitas keseharian. Membaca buku dengan gaya
tulisan yang ringan namun tajam. Kritik yang dituangkan secara santun pada
contoh tingkah laku keseharian.
Pembaca seolah diajak untuk mengenali, memaknai
kembali, melihat realitas yang sesungguhnya tak berjarak selama ini, namun
luput dari cerminan kita sendiri. Membaca buku ini, diam-diam, kita seolah
berada pada ruang wisata hati. Antara persinggungan dan kerelaan kita menerima ketersinggungan
sebagai cara refleksi. Tulisan yang dikemas apik pada akhirnya kita akan banyak
berkata “Nah !! inilah masalah dan fakta selama ini”.
Peringatan
dan saran; Jika anda tidak cukup kuat mental untuk menerima kritik sebagai
ruang pembelajaran. Membaca buku ini, sebaiknya cukup menjadi cita-cita, sampai
anda siap pada waktunya.**
Judul Buku : Dua Kubah Di Gang Yang Sama
Penulis : Samsul Bahri
Penerbit : Arga Puji Press Mataram Lombok dan Pustaka Lokantara
Cetakan pertama : April 2015
Dimensi : 189 halaman. 18,5 cm x 12,5 cm
*******
*Maia Rahmayati. Peneliti
Sosial Budaya pada Institut Studi Krisis dan Perdamaian- inSKRIP NTB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar