Selasa, 26 September 2017

Sejumlah Kebaikan Perempuan-Perempuan Kalah

*Dedy Ahmad Hermansyah. 

Diskusi pada peluncuran buku 'Kebaikan Istri', Minggu 06 Agustus 2017, di Hotel Paradiso


Pertama kali disodorkan buku Kumpulan Cerpen Kebaikan Istri yang ditulis oleh Budi Afandi, saya langsung membolak-balik halaman dan membaca judul-judul cerpen di dalamnya. Ada 15 Cerpen. Dua judul ada menyebutkan kata ‘Perempuan’, tiga judul menyimpan nama perempuan (Maemunah, Siti Salemah, dan Aya), dua judul lagi menggunakan kata yang merepresentasikan perempuan (Ibu, dan Istri), satu judul yang berupa persis satu kata yang identic dengan perempuan (Ngidam), tiga judul memuat kata yang barangkali juga dekat dengan dunia perempuan (Penunggu, rumah, dan lukisan), dan sisanya terselip kata yang identic dengan laki-laki (Detu Tuan, Lelaki dan Kantong Plastik Hitam, Jalan Kecil Menuju Pelabuhan).

Tak bisa saya elakkan, kesan itulah yang kemudian menuntun saya untuk mencari tahu: sejauh mana cerita-cerita tersebut menegetengahkan persoalan perempuan, latar atau konteks social seperti apa yang dihadapi oleh perempuan-perempuan dalam cerita-cerita dalam buku ini, bagaimana perempuan menghadapi masalah tersebut, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan teknis seperti menyangkut bahasa, estetika, teks, tata bahasa, efek rasa, menyusul kemudian.

Sebelum saya lanjutkan, perlu dicatat: saya bukanlah orang yang mampu menulis kritik sastra (ini kerja yang besar dan agung yang berat saya lakukan), mampu menganalisa cerita dengan metode-metode sastra tertentu, atau membedah dengan sangat detail sebagaimana halnya ahli linguistic. Anggap saja ini hasil pembacaan sekilas pegandrung sastra, khususnya cerita pendek, yang amatir yang kesannya akan lebih terasa subyektif alih-alih obyektif.


Jadi saya barangkali akan lebih banyak menggunakan cara pandang marxis terhadap sastra (yang melihat sejauh mana cerita-cerita ini mengungkap relasi social dan sejarah penindasan kelas) atau pandangan dari Rorty: sebuah novel (baca: cerita) tak perlu melihat instrinsik estetikanya, tetapi sejauh mana sastra itu mampu memperluas diri dan mereplikasi kemanusiaan ke dalam diri pembacanya. Itupun barangkali tidak akan terlalu dalam, sekadar usaha memantik diskusi kita.

Baik, saya akan lanjutkan. Seusai membaca judul-judul cerpen di dalam buku Budi Afandi itu, saya mulai membaca satu persatu cerita di dalamnya. Benar belaka: sejak cerpen pertama sampai kelima, saya menarik nafas—seluruh cerita itu berpusar dan berpusat pada persoalan perempuan.  

Cerpen pertama, Penunggu, berkisah tentang perempuan sepuh bernama Kairah yang saban pagi pekerjaannya berada di dapur untuk mempesiapkan sarapan bagi anak-anaknya. “Setiap pagi Kairah menyibukkan diri di dapur seperti yang dilakukan semua wanita di kampung. Baginya, tidak ada hal lain yang lebih penting di pagi hari selain menyiapkan santapan bagi seiisi rumah. Ketika Kairah terbangun sebelum ayam jantan berkokok, hal pertama yang ada di kepalanya adalah nama-nama sayuran dan jenis makanan yang akan ia hidangkan kepada anak-anaknya.” Narasi mengalir lirih, berisi detail deskripsi aktifitas di dapur dan meja makan, juga kenangan masa mudanya yang diisi kerja keras di rumah dan ladang tuan tanah.

Cerpen kedua, Perempuan dengan Sepasang Mata Hujan, mengisahkan seorang perempuan dengan anak laki-lakinya. Suaminya meninggal saat  berlayar di laut. Menurut ibunya, anaknya ini mewarisi sebagian dari diri ayahnya—kasar, keras kepala..”semasa hidupnya saja selalu memberikan kesusahan kepada kami, kepada ibu khususnya.””…ayah cepat mengamuk, …kaki dan tangan ayah sangat mudah mendera tubuhku dan ibu”, “Anak yang tubuhnya selalu terbakar…. Anak yang selalu membawa perapian menyala dengan kayu-kayu bakar yang tak pernah tandas.” Sementara penggambaran tokoh perempuan: “Ibu dengan sungai kecil di telapak tangannya, dengan hujan deras di dalam matanya,” Perempuan seperti taman kembang.”

Masalah berputar pada tokoh perempuan yang tidak mau menikah lagi meski sudah didesak oleh anaknya sendiri. Dia bersetia untuk melewati hidup dengan membersihkan foto almarhum suaminya. Kenyataan lain yang menyeruak di akhir cerita juga barangkali yang membuat dia tak mau menikah—mertuanya tidak menigizinkan dia menikah lagi, selama mertuanya itu masih hidup. “Sebelum aku mati, jangan sampai kau menikah lagi.”

Cerpen ketiga, Perempuan yang Menunggu dengan Tongkat, masih berputar pada soal perempuan. Tersebutlah Jumenah yang memeram cintanya kepada Darno, seorang laki-laki pimpinan perang pasukan kemerdekaan, sampai mati. Jumenah tidak menikah demi menjaga cintanya. Tongkat peninggalan Darno dia dekap saat dia sekarat. Tak ada yang bisa melepaskan tongkat itu dari dekapannya.

Sampai di sini, dari tiga cerpen awal-awal, perempuan digambarkan sebagai ‘penunggu’, sabar, setia, rela berkorban sepanjang hidupnya. Baik Kairah; perempuan yang suaminya meninggal di laut; dan Jumenah, sama-sama memiliki ketabahan yang kuat.




Tapi di cerpen keempat, Pembunuh Ibu, perempuan digambarkan sebagai tokoh jahat, penyebab bencana. Ini berkisah tentang seorang anak laki-laki yang menggantung ibunya sampai mati setelah ayahnya ditembak mati karena terkena kasus korupsi. Ibunya digambarkan sebagai perempuan tukang belanja, konsumtif. Tersirat dalam cerita ini bahwa kebiasaan itulah yang membuat dia membunuh ibunya, selain dari pesan ayahnya sendiri sebelum ditembak mati, Anakku, kau tentu tahu. Ibumu juga bertanggung jawab atas kesalahan ayah. Kalau ayah pantas mati. Apa ibumu tidak?”

Cerpen kelima, berkisah tentang seorang perempuan yang akhirnya harus menerima keputusan orang tuanya untuk menikah dengan anak seorang bangsawan, yang merupakan sahabat ayahnya. Cerpen keenam, tentang perempuan bernama Maemunah yang ingin sekolah tinggi namun harus menjadi gila dan dipasung dekat kandang itik dan ayamnya setelah menolak lamaran seorang bos minyak tanah.
Cerpen ketujuh, tentang perempuan bernama Siti Salemah yang menjadi TKW yang menanggung beban derita sepulang ke kampong halaman dan mendapati suaminya telah menikah lagi, parahnya, uang pernikahan suaminya berasal dari hasil kerja kerasnya di luar negeri.

Cerpen kedelapan, meski cerita tidak berpusar pada soal perempuan, namun naratornya adalah seorang perempuan, Ellena, pemilik salah satu penginapan di Senggigi, daerah wisata di Lombok. Ini sejatinya berkisah tentang seorang laki-laki bernama Ismail yang datang dari satu daerah yang sedang demam (tambang) emas. Dari dialog antara mereka berdua, Ellena dan tamunya itu, terungkap satu perubahan di daerah tambang emas yang membawa dampak buruk, di samping tentu saja peningkatan ekonomi. Ismail berkata seperti ini, “Di bukit-bukit emas, kesenangan-kesenangan datang dan pergi dengan sendirinya. Banyak orang mulai berjualan minuman beralkohol dengan harga berkali lipat. Lalu datang perempuan-perempuan penghibur dari berbagai daerah. Dan jika semua hal sudah dalam puncak, kejumudan dan kesepian, maka batasan menjadi tiada,” 

Cerpen kesembilan, Kebaikan Istri, yang jadi judul sampul buku ini, diceritakan dari sudut pandang seorang perempuan penghibur. Dari sana perempuan penghibur itu menceritakan tentang satu laki-laki dengan sikap aneh datang ke tempat hiburan. Mengalirlah kisah tentang laki-laki itu: ia datang atas permintaan istrinya yang sedang koma di rumah sakit, sudah lima tahun. “Istriku berkata, pergilah ke tempat hiburan dan carilah perempuan agar kau lebih bersemangat.”

Seiring berjalannya kisah, istri sang lelaki mulai membaik kesehatannya. Ia bercerita tentang perempuan pelacur itu, dan istrinya sungguh senang mendengar tentang itu. Tapi anehnya, dia justru tetap meminta suaminya bersama perempuan itu, berbuat baik pada perempuan itu.

Cerpen kesepuluh, berkisah perihal yang sederhana, tentang seorang laki-laki yang berusaha memenuhi permintaan istrinya yang sedang ngidam. Mulai dari memegang bulu betis bule (yang kemudian gagal dipenuhi), dan endingnya berusaha memenuhi permintaan istrinya yang ingin memegang pesawat. Ia pun mengirim surat ke Pak Habibie, yang pada akhirnya gagal juga, karena dia ditolak oleh petugas kantor pos, dan orang-orang di kantor pos menertawainya.

Cerpen kesebelas, tentang seorang laki-laki yang selalu dibayangi ‘hantu’ bayi-bayi yang dia buang, hasil hubungannya dengan perempuan. Cerpen kedua belas, tentang seorang perempuan bernama Aya…”…tak pernah ke mana-mana. Penyakitnya membuat ia dianggap terkutuk dan hanya bisa keluar pada musim memetik anggur.” Laki-laki yang mencintai Aya kemudian melakukan perjalanan di samudera untuk menemukan satu kota dengan satu musim—musim memetik anggur. Menurut saya, ini cerita yang sangat romantic, dengan narasi yang puitis.

Cerpen ketiga belas, berkisah dengan sangat lirih, dan nampak tidak bertendensi untuk menceritakan sesuatu: hanya tentang perjalanan seseorang menyusuri jalan kecil menuju pelabuhan yang pernah diceritakan adiknya, dengan perubahan kecil di dalamnya. Cerpen keempat belas, sebuah rumah tua milik seorang bangsawan Belanda. Rumah itu dijual, tapi oleh pemiliknya yang sebelumnya lukisan yang ada di rumah itu sebaiknya tidak dipindahkan. Cerpen kelima belas, cerpen terakhir, berkisah dengan gaya surealis, mencoba ‘bermain’ filsafat tentang makna rumah, dari sudut pandang kematian (barangkali?).

Entahlah, saya merasa, empat cerpen terakhir nampak berbeda dengan cerpen lainnya. Empat cerpen terakhir mulai minim konflik, tokoh, bahkan cerpen terakhir berjudul Rumah yang Jauh, tidak memiliki dialog sama sekali. Mereka memiliki narasi puitis dengan kekentalan berbeda-beda.


Perempuan-perempuan ‘baik’ yang dikalahkan! Sebuah Catatan (yang diusahakan) Kritis.

Seperti yang sebutkan di awal, sebagian besar cerita dalam buku Kebaikan Istri berpusar pada perempuan. Dan ketika tokoh perempuan di sana berhadapan dengan masalah, maka tak satupun dari mereka yang keluar sebagai pemenang. Mereka pada akhirnya takluk pada sistem kuasa patriarkis. Ada TKW yang tak bisa berbuat apa-apa ketika suaminya menikah lagi dan tak bisa menuntut apa-apa ketika uang hasil kerja kerasnya digunakan oleh suaminya. Ada perempuan yang cita-citanya bersekolah runtuh dan jadi gila setelah menolak seorang laki-laki yang punya kuasa (bos minyak tanah). Ada perempuan yang punya pikiran kritis tetapi harus takluk juga di hadapan aturan yang dibuat laki-laki.

Pertanyaan berikutnya: sejauh mana masalah perempuan terentang di dalamnya, bagaimana perempuan mengatasi masalahnya, latar social apa yang dihadapi oleh perempuan?

Dalam pembacaan sekilas saya, masalah-masalah perempuan dalam sebagian besar cerpen-cerpen Budi Afandi belum menampakkan kedalaman. Memang narasinya lembut, asyik untuk diikuti (mungkin ini ada pengaruh dari kenyataan bahwa penulisnya juga menulis puisi). Akan tetapi, masih kuat saya menangkap kesan jika masalah-masalah yang dihadirkan masih berupa permukaan: fenomena umum tentang perempuan yang menguasai wilayah dapur, tentang TKW yang pulang-pulang suaminya menikah lagi, tentang perempuan yang dipaksa menikah dan tak bisa menolak.
Tentu ada beberapa pengecualian, perempuan baik yang berhasil mempertahankan prinsipnya—ada perempuan yang berani tidak menikah demi mempertahankan perasaan cintanya, ada juga yang tidak menikah lagi dan bersetia merawat foto almarhum suaminya.

Nah, bagian manakah dari cerpen-cerpen Budi Afandi yang belum menampakkan kedalaman? Menurut saya, sangat baik bagi seorang penulis untuk selalu mengeksplor persoalan kemanusiaan (karena sejatinya tugas sastra adalah mengulik persoalan manusia). Akan tetapi, lapangan sastra adalah wilayah di mana kebenaran diceritakan dengan cara lain, untuk mengusik batin terdalam kita.

Misalnya, saya dibuat kecewa dengan cerpen “Siti Salemah” yang mengetengahkan persoalan TKW. Secara narasi memang saya tenggelam dan larut, akan tetapi jika disingkirkan seluruh narasi itu, saya hanya mendapatkan data-data yang bisa saya baca melalui berita. Iseng saya searching di internet soal tema ini, ada banyak sekali. Di cerpen ini rasa-rasanya Budi Afandi seperti hanya memindahkan data-data dari berita yang ada, lalu disuntikkan narasi yang lembut. Tidak ada kedalaman.

Di cerita-cerita yang lain juga masih menyisakan sedikit keganjilan-keganjilan. Misalnya, dalam cerpen Detu Tuan, saya tak menemukan uraian penyebab tokoh perempuan di dalamnya bisa berpikir kritis dan membenci praktik memiliki istri lebih dari satu, mungkin karena saya menangkap konteks cerita (fakta social) adalah masa era feodalisme. Susah bagi saya membayangkan ada perempuan yang mencoba mempertanyakan sistem dan aturan (fakta mental) yang memang sudah lazim (kecuali jika diuraikan sebab-musababnya. Sebagai perbandingan, tokoh Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Bumi Manusia. Dia perempuan pribumi yang tiba-tiba jadi sangat kritis, cerdas, membaca banyak karya sastra. Ini nampak mustahil seandainya Pram tidak menguraikan bahwa Nyai Ontosoroh diambil jadi gundik oleh seorang Belanda, diajar membaca, diberi kebebasan untuk melakukan beberapa hal yang dilarang untuk dilakukan pada waktu itu).

Terlepas dari itu semua, tentu saja saya menikmati seluruh cerpen di dalam buku ini. Menangkap realitas adalah tugas seorang penulis, dan tugas berikutnya yang paling penting, merefleksikan realitas itu dan menemukan jantung masalahnya.

Dan lagi, ini hanyalah hasil pembacaan subyektif saya, yang setiap orang, tentu saja, memiliki pengalaman berbeda dalam membacanya. Mari kita diskusi!    



Mataram, 06 Agustus 2017


*Disampaikan pada kesempatan peluncuran buku Kebaikan Istri, penulis Budi Afandi.

********



*Dedy Ahmad Hermansyah. Pustakawan di Komunitas Teman Baca.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar