Senin, 25 September 2017

Tukang Pos yang Mencintai Pekerjaannya

*Maia Rahmayati

1478916035421-156584543




“Tak ada perjalanan yang lebih menyenangkan selain perjalanan yang benar-benar dinikmati”. Pada kata “perjalanan” kita boleh juga menggantinya dengan kata “pekerjaan”. Sebab, untuk sebagian besar orang ada yang memilih profesi pekerjaannya ya sambil jalan-jalan, atau sebaliknya.. “jalan-jalan sambil kerja”. Tidak perlu membandingkan keduanya, sebab setiap orang memiliki pengalaman berbeda, dan sekali lagi.. perbedaan penting ada untuk dirayakan, disyukuri.

Kedua buku ini secara umum, saya melihatnya begitu, dari kisah latar perjalanan seorang “tukang pos” yang sehari-hari mengantarkan surat-surat menggunakan sepeda merah.

Kim Dong Hwa dalam Sepeda Merah Yahwari #1 menuliskan prolog “Menjadi Penulis itu mirip dengan menjadi tukang pos……” kalimat ini penting untuk memahami alur cerita, pesan, teks dan konteks pengalaman si Tukang Pos bersama Sepeda Merah.
Ia menyatakan “kemiripan” itu sebagai gambaran pengalaman dalam perjalanan; menyusuri desa-desa, bertemu orang-orang dengan berbagai latar pekerjaan, pendidikan, ekonomi, serta membuat catatan-catatan simpulan dari “gejala” yang disajikan dalam realitas sosial tersebut.
Tidak hanya membidik pengalaman pada ranah sosial, Kim dengan “Cantik”menulis tentang pergantian musim-musim, serta bagaimana adaptasi masyarakat Korea umumnya dan desa Yahwari. Adaptasi yang saya maksud adalah berkaitan dengan sumber daya alam mempengaruhi sumber daya manusia, dan begitu sebaliknya.
Ia bercerita tentang Bagaimana seorang ayah pada musim semi, menyemai bibit bunga Hollyhock di sepanjang jalan desa menuju rumahnya, dengan alasan  supaya pada musim selanjutnya sang anak yang bekerja di kota, ketika pulang menjenguknya ia akan mendapati bunga-bunga Hollyhock bermekaran untuk mengingatkan ia pada genggaman hangat tangan almarhum ibunya. Cara pria yang mencintai dua perempuan dalan hidupnya (istri dan putrinya) melalui bunga-bunga.
Gambaran ini juga tentang orang-orang yang ditemui tukang pos di sepanjang perjalanan. Mereka yang menanam sayuran, mengumpulkan kayu menjelang pergantian musim demi musim, tak hanya orang-orang yang berbicara dalam kisah Sepeda Merah, setiap benda, cuaca, peristiwa seolah-olah “dipaksa” bercerita dan menceritakan dirinya dengan rela. Kim, sukses menggambarkan fenomena ini.
Berkali-kali membaca novel grafis ini, kita akan selalu menemukan detail pengalaman perjalanan yang berbeda. Pun sebagaimana yang membuat saya cukup tertarik adalah “cara” Kim menyajikan perbedaan antara dua desa “Yetdong dan Sedong”pada kisah 4 “Hari Pasar” di buku Yahwari ia menulis: "Penduduk Yetdong mengirim anak-anak mereka ke Kota. sementara mereka orang-orang kota yang menyekolahkan anak-anaknya, datang menetap di Sedong untuk menikmati daerah pinggiran." 

Kim melalui Tukang Pos, jeli membidik “peristiwa” di pasar yg terletak antara desa Yetdong dan Sedong. Ia menggambarkan penduduk Yetdong sebagai petani yang menjual sayur, ayam (hasil pertanian dan peternakan). Pada hari itu, penduduk Yetdong datang dengan kendaraan Fajar di atas kepala mereka. Semua barang hendak dijual. Kita juga bisa melihat sebagian besar pembeli adalah penduduk Sedong, mereka senang menawar. Bagi penduduk Yetdong, hari pasar sangatlah penting, namun bagi penduduk Sedong itu sekedar permainan. dan di Pasar itu.. adalah satu-satunya tempat di mana penduduk Yetdong dan Sedong bertemu. 

Pada cerita ini, saya menemukan gambaran tentang “ketimpangan” kapital, uang, karakter, keberagaman, harga diri, distribusi sumber daya dari ruang yang nyata yaitu “Pasar”.
Selain gambaran-gambaran itu, bentuk lain yang sulit dihindari Kim Dong Hwa dalam karya-karyanya atau sebagai apa yang saya maknai dengan karakter puitis. Bagian Cerita ketika si tukang pos dengan Sepeda Merah, merindukan salah satu rumah seorang seniman yang selalu menyajikannya puisu-puisi indah. Dari sudut pandang itu, kita dapat menjadi paham, bagaimana akhirnya benak seorang “Tukang Pos” menciptakan “tanda sebagai penanda” dari orang-orang yang dilayaninya sekaligus melayani dirinya selama dalam perjalanan. Tukang Pos yang secara jeli membuat peta-peta jalan dari konsistensinya, dari cara ia berkomunikasi dengan peristiwa.
Dengan begitu, saya pun dapat menerima ke-sependapat-an saya dengan Kim pada soal bagaimana akhirnya Perjalanan dan Pekerjaan; sebagai Penulis, Tukang Pos, Petani, Seniman, Biksu, dan berbagai jenis pilihan profesi/pekerjaan  adalah bagian dari aktifitas yang kita cintai, bukan karena kita mesti mendapatkan banyak sisi material daripadanya, tapi sebagai 'jalan' yang membahagiakan.
Selain saya, anak saya siNejad sebagai pembaca “Sepeda Merah” dan Trilogi Warna juga melontarkan beberapa hal, kaitan dengan karya Kim Dong Hwa. pada tulisan ini saya hendak menuliskan beberapa hal yang juga menjadi simpulan kami sebagai pembaca dua karyanya ini. yaitu pada pilihan judul dan karakter buku. si Nejad bertanya ” Inaq.. mengapa buku Warna Tanah, Warna Air dan Warna Langit ( Trilogi Warna)? Kim justru tak satupun pada halaman ceritanya berwarna (yang ia maksud adalah berwarna kuning, merah hijau, biru dll), tapi di buku Sepeda Merah, ia dengan jelas memberikan warna pada lembar demi lembar gambarnya?”
Oke, saya tadinya tak berpikir tentang ini. Tapi, terimakasih nejad. Ia cukup jeli menanyakan soal ini, soal warna-warna. Dan sekiranya lagi-lagi, inilah karakter Kim, yang selalu “baru”, berbeda dan membuat detail jelas pada setiap karyanya.
Dan sekali lagi, saya jatuh cinta pada novel-novel grafis ini. Sebagaimana saya mencintai banyak penulis, pengarang buku, sebagai upaya mengkaryakan dirinya, cara pandangnya terhadap persoalan-persoalan.
Akhir kata, ulasan singkat ini, tentulah sangat subjektif. Sehingga saran saya silakan berburu buku sebanyak banyaknya. Jika tertarik membaca dua judul novel grafis karya Kim Dong Hwa yg saya sebutkan di atas secara gratis silakan bergabung di #TemanBaca. Di sekretariat mereka di Jalan Pemuda no 04, kalian boleh membaca, bertemu, berdiskusi sembari minum kopi dengan sahabat saya Dedy dan Bari. selamat berakhir pekan dan salam Literasi 🙂  ***

Judul Buku : Sepeda Merah Jilid #1 “Yahwari”
144 hlm; 21 cm
Judul Buku: Sepeda Merah Jilid #2 “Bunga-Bunga Hollyhock”
176 hlm; 21 cm
Penulis        : Kim Dong Hwa
Penerbit      :  PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama : Oktober 2012

****
Note* tulisan singkat ini anggap saja sebagai bagian dari profesi saya sebagai “Tukang Pos” yang menyampaikan kabar dari #TemanBaca 🙂





*Maia Rahmayati. Ibu rumah tangga, pegiat Komunitas Teman Baca. Peneliti dan penulis yang sangat produktif asal NTB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar