*Dedy Ahmad Hermansyah
--sebuah wawancara imajiner--
Perjalanan ini semakin mendekatkanku padamu. Bung, aku datang membawa setumpuk kerinduan, juga pertanyaan-pertanyaan yang barangkali sudah sering kau dengar dari para peneliti, wartawan, anak-anak muda yang mendatangi rumahmu. Barangkali Bung sudah menyiapkan sekian jawaban yang sama untuk pertanyaan yang itu-itu juga. Melulu perihal luka-lukamu di masa lalu, cita-citamu yang membiru, dan segenap harapanmu untuk generasi muda yang semakin kukuh.
--sebuah wawancara imajiner--
Perjalanan ini semakin mendekatkanku padamu. Bung, aku datang membawa setumpuk kerinduan, juga pertanyaan-pertanyaan yang barangkali sudah sering kau dengar dari para peneliti, wartawan, anak-anak muda yang mendatangi rumahmu. Barangkali Bung sudah menyiapkan sekian jawaban yang sama untuk pertanyaan yang itu-itu juga. Melulu perihal luka-lukamu di masa lalu, cita-citamu yang membiru, dan segenap harapanmu untuk generasi muda yang semakin kukuh.
Bung, lima
belas menit lagi aku tiba di hadapan pagar rumahmu. Rumahmu telah lama bermukim
di kepalaku. Foto-foto dan video yang banyak tersebar di dunia maya-lah yang
membangunnya. Tiga tingkat kan? Menjulang berwarna biru langit, kokoh—persis
seperti gambaran dirimu di dalam otakku.
Rumah itu,
barangkali bukanlah rumah yang benar-benar kau impikan. Ia hanya satu usaha pembuktian
kepada mereka yang meremehkanmu—Bung bisa bangkit dan membangun rumah meski
berpuluh tahun menderita.
Ah, Bung, aku
jadi teringat dengan penjelasan seorang sejarawan muda tentang rumah dalam
kehidupanmu. Ia katakan, Bung sedari kecil telah memimpikan rumah dalam dua
pengertian: ruang dan fisik (home dan house). Sialnya, Bung terseok-seok membangunnya.
Sepanjang umurmu, rumah dalam dua pengertian ini kacau balau, dihantam badai,
dihancurkan oleh orang-orang yang tak punya jiwa peradaban tinggi.
Bung lahir di Blora, tapi kemudian pindah ke Jakarta. Bung punya ingatan yang memilukan saat mengenang Ayah dan Ibu Bung. Bung ditempa oleh kerasnya kehidupan di masa kecil, dipertajam untuk cinta kepada keadilan. Rumah masa lalu itu begitu buram dan muram.
Bung menulis,
berfikir, bercita-cita tentang Indonesia yang semestinya. Tak berhenti di situ,
cita-cita itu Bung perjuangkan. Dalam usaha perjuangan itu, musuh-musuh berdiri
garang di hadapan Bung. Dengan kesadaran dan atas nama kewajiban nasional, Bung
terus bergerak maju.
Hingga satu
peristiwa paling memilukan terjadi di tanah air Indonesia ini. Itu pada tahun
1965. Seluruh bangunan rumah dalam dua pengertian itu hancur perlahan-lahan.
Puing-puingnya menjadi luka yang terus Bung bawa ke tempat pengasingan Bung.
Rumah yang Bung bangun dirampas tentara. Istri dan anak-anak Bung terlantar
mencari rumah—rumah tempat berteduh dan rumah yang adalah Bung sebagai
bagiannya.
Matahari sebentar lagi pulang. Aku sudah mendekati rumah Bung. Kepala terasa berat. Ada yang hendak meledak di sana. Barangkali sejenis kegembiraan yang berlebihan! Ah, akankah senyum dengan tawa kecilmu Bung yang akan diberikan kepadaku? Semoga saja!
Aku tiba Bung.
Aku sudah membayar taxi. Barang-barangku—tas hitam besar dengan sebungkus
plastik berisi hadiah kecil—sudah kuturunkan. Iya, alamatnya benar: Jl. Warung
Ulan No. 9 Bojonggede, Bogor. Begitu yang tertera di plang yang melekat di
tembok pagar rumah Bung. Nah, sekarang seorang perempuan tua berkaca mata
mendatangi pagar. Senyumnya ia pasang. Ia membuka pintu pagar:
“Yang dari
Makassar kan?”
“Iya, Bu. Dari
Makassar!”
“Hayo, masuk!”
Ah, Bung,
betapa ramah kata-katanya. Itu Ibu Maemunah, istri Bung yang luar biasa itu.
Aku menjinjing tasku. Ibu Maemunah menuntunku. Ibu terus ke dalam, aku duduk di
atas kursi depan meja bundar di beranda, membuka sepatu cokelatku. Suasana
rumah Bung begitu sejuk dan lapang. Ada pepohonan dan berbagai jenis bunga.
Bukit-bukit berkabut di kejauhan kini samar. Senja datang!
Aku dengar
suara yang akrab di telingaku. Suara itu semakin mendekat. Semakin mantap.
“Daun goyang-goyang ditiup angin. Daun goyang-goyang ditiup angin…”
Itu nyanyian
yan ditingkahi suara anak kecil. Ah, bung datang dari balik pintu. Anak kecil
di gendongan Bung itu pasti cucu yang lucu. Nah, lihat, ia terus memandang
mulut Bung yang bernyanyi itu. Barangkali ia berusaha meniru gerak mulut Bung.
Bung tertawa. Kantung mata Bung semakin menyembunyikan kedalaman pandang Bung.
Bung menurunkan
cucu laki-laki Bung. Tepat di hadapanku. “Hayo, salaman dulu sama Om. Hehehe!”
Ia mengulurkan tangan, aku menyambutnya hangat. Lalu ia lari ke dalam rumah.
Lalu segera aku menyalami Bung. “Wah, jauh-jauh dari Makassar ya. Perjalanan
lancar kan? Hayo masuk ke dalam. Sebentar lagi malam!”
Aku masuk.
Berjalan di belakang Bung. Ah, Bung beraroma tembakau. Barangkali Bung belum
pula mandi sore…
*****
Malam telah
datang. Aku duduk di ruang tamu menghadap meja bundar. Di atas meja, setumpukan
buku tergeletak. Cucu-cucumu, Bung, asyik bermain di depan televisi. Ada yang
bermain ketapel dari tali karet yang diikat dari satu ujung tembok ke ujung
lainnya. Kemoceng menjadi ‘batu-lontar’-nya. Ada pula yang tengah
membolak-balik buku bergambar di atas kursi. Betap semarak, Bung!
Ibu Maemunah
menghampiriku. Ia menawariku minum teh hangat—sudah tersedia di tangannya. Aku
ucapkan terima-kasih. “Bapak sedang membereskan sesuatu di ruang perpustakaan.
Sebentar lagi turun,” kata Ibu Maemunah.
“Bapak sekarang
lebih sehat. Ia mulai kliping Koran lagi. Mulai merokok lagi. Beberapa hari
lalu Bapak sakit. Kalau tubuhnya lemas, biasanya Bapak tak bisa naik ke
perpustakaan di lantai dua. Perpustakaan Bapak terhubung dengan kamar tidur.”
Bung, inikah
perempuan yang bertahun-tahun merawat anak-anakmu selama Bung di pengasingan?
Perempuan inikah yang tak lelah-lelah menjaga dan merawat cintanya untuk Bung,
hingga ia menolak saran Bung untuk menikah lagi? Ibu Maemunah, istri Bung itu,
kini bercerita tentang perjalanan hidupnya. Ibu berkisah, sejak Bung ditahan,
anak-anak menanyakan keberadaan Bung. Ibu lantas berkata, Bung keluar negeri.
Anak-anak Bung baru mengetahui Bung ditahan sejak Ibu Maemunah mengajak mereka
menjenguk Bung di penjara.
Ah, Bung,
sisa-sisa kecantikan Ibu Maemunah masih dapat dijejaki di wajahnya yang kini
tua. Dulu Bung bertemu Ibu di sebuah acara kan? Saat itu Ibu sedang bertugas
menjaga stand buku. Bung terpesona olehnya. Lalu mendekatinya. Rupanya Bung
punya saingan. Bung bersaing dengan pria flamboyan dalam banyak hal yang pernah
dikenal negeri ini: Bung Karno. Bung tak surut langkah. Persaingan itu
mengantarkan Bung sebagai pemenang. Bung menyebut persaingan itu: buaya
kedahuluan buaya.
Tak lama
kemudian, pada tahun 1955, Bung melamar Ibu Maemunah. Luka masa lalu
karena kegagalan pernikahan pertama kini terobati dengan hadirnya Ibu di dalam
kehidupan Bung.
Suara langkah
terpatah-patah menuruni tangga. Itu kamu, Bung. Bung berjalan sedikit gontai.
Bung mengenakan baju kaos putih polos. Bersarung. Senyum Bung sudah mengembang
sejak matamu terpaut padaku. Kantung matamu itu Bung. Membuatku tak bisa
menatap kedalaman matamu. Kaca mata Bung menegaskan kantung matamu.
Bung lapar. Aku
juga lapar. Bung mengajak ke meja makan. kita makan berdua. Ibu Maemunah sibuk
menenangkan dan menjaga cucu-cucu Bung yang lucu-lucu itu. Tak bisa kubayangkan
Bung. Jika ke-16 cucu Bung berkumpul bersama…
*****
Kita sekarang
berada di ruang perpustakaan. Aku dan Bung. Sorot lampu berwarna susu menyapu
benda-benda di ruangan Bung di lantai dua ini. lantai hitam-putih bercahaya
terkena sinar. Bung duduk di kursi kerja, membelakangi sebuah lemari kaca yang
panjang. Di sana ada buku-buku dengan kategori tertentu. Aku lihat semuanya
berkaitan dengan sejarah. Di meja di hadapan Bung ada setumpuk Koran dan
berkas-berkas yang acak-acakan.
Aku keluarkan
sebuah gambar: siluet dua wajah, nyaris tak bisa dikenali antara lukisan atau
sapuan kuas pelukis. Wajah pertama adalah laki-laki berpakaian putih
berkancing. Laki-laki itu berkumis tipis. Kepalanya ditutupi blankon. Wajah
kedua adalah perempuan berparas muda. Anting menghiasi kedua telinga. Rambutnya
disanggul. Lehernya berkalung dengan mata-kalung serupa cincin.
Di bawah gambar
itu ada keterangan yang menyebutkan bahwa laki-laki itu adalah putra tertua
seorang guru agama atau naib. Perempuan disampingnya adalah putri tengah
seorang petinggi keagamaan atau penghulu dari Rembang. “Itu gambar Ayah dan Ibu
saya,” jelasmu, Bung. Iya, dua orang itu adalah orang-tuamu, Bung.
Sekarang
wajahmu terlihat serius. Kamu seperti terlempar ke masa lalu, ke pedalaman
sejarah. Kamu mulai berkisah tentang sejarah dirimu dan keluargamu, Bung.
Bung lahir pada
6 Feburari 1925 di Blora. Masa itu masa kolonialisme. Bung katakana, Blora itu
adalah kota kecil agraris yang miskin. Kamu mengingat, pada masa Jepang,
masyarakat Blora menanam cili, kapuk dan jerami untuk dieskpor ke Jepang. Masa
kecilmu dilewati di sebuah kota kecil terpencil, lalu terbebaskan dari
keterasingan dengan dibangunya perlintasan kereta api dari Rembang menuju Cepu,
yang merupakan tempat berdirinya Bataafsche Petroleum Maatschappij (Perseroan
Minyak Batavia).
Kamu mulai
berkisah tentang Ayahmu. Ayahmu seorang nasionalis kiri, ibumu berasa dari
kelas feodal. Namun terpengaruh oleh suaminya, ia pun menjadi nasionalis kiri.
Maka pendidikanmu sejak kecil adalah nasionalisme kiri. Orang-tua Bung
menanamkan ideologi sejak kecil untuk selalu mencintai keadilan, kebaikan dan
alam, serta nasionalisme. Ideologi itu terus melekat dalam dirimu, Bung.
Berurat-berakar.
Perjalanan
hidup keluarga Bung bukan tanpa lika-liku. Salah satu pemicu ‘keras’-nya
perjalanan hidup keluargamu adalah pemikiran dan pendirian politik kedua
orang-tuamu. “Bapak saya meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di
Hollands-Indische School. Saat itu, dia menjadi pemimpin gerakan sekolah Boedi
Oetomo. Di bawah kepemimpinan ayah saya, sekolah itu berubah haluan menjadi
anti-kolonial.” Konsekwensinya, pendapatan keluarga menjadi surut. Di sekolah
pemerintah, Ayah Bung digaji 200 gulden. Tapi karena aktifitas politiknya yang
menentang colonial, Ayah Bung hanya mendapat 18 gulden dari mengajar di si
sekolah Boedi Oetomo. Ayah Bung memang menjadi ketua Partai Nasional Indonesia
(PNI). Ia juga ketua kehormatan gerakan Pramuka.
Ah, Bung. Aku
menangkap kesan, ingatan Bung kepada ayah Bung nyaris tanpa kelembutan. Meski
begitu, Bung benar-benar belajar dari ayah Bung untuk tetap konsisten dalam
bersikap. Bung terkesan membenci ayah Bung, namun sekaligus mencintainya. Iya
kan? Ingatan tentang ayah Bung selalu soal ketegasan yang diperlihatkan dengan
‘keras’. Berulang-ulang kali dalam wawancara dengan pertanyaan soal hubungannya
dengan ayah Bung, Bung mengucapkan, bahwa ayah Bung marah besar saat Bung
berkali-kali tak naik kelas. Bung pernah dikatakan goblok oleh ayah Bung. Bung
dilarang melanjutkan kelas, harus mengulangnya dari kelas pertama. Bung pernah
meminta Ayah mengirimkan uang untuk membeli buku yang Bung minati, namun
kiriman itu tak pernah ada.
Ayah Bung
pernah dilanda depresi dan meninggalkan rumah, mengabaikan Ibu dan adik-adik
Bung, mabuk-mabukan dan bermain judi. Maka saat Bung meniru hal yang serupa dan
Bung kedapatan, ia menghardik, “berhenti! Jangan teruskan. Kalau kau sudah
punya penghasilan sendiri, kau bisa berbuat semaumu dengan penghasilanmu.
Tetapi kau belum punya penghasilan apa-apa. Berhenti!” sebab itu Bung menyebut
ayah Bung seorang liberal!
Dalam beberapa
hal, di kemudian hari, Bung mengalami apa yang dialami ayahmu. Ayahmu seorang
pengarang puisi dan prosa dalam bahasa Jawa, Belanda dan Melayu. Ayahmu juga
mencipta lagu-lagu. Beberapa karangan ayahmu juga dirampas pemerintah colonial.
Kamu mengarang seperti Ayahmu, Bung. Dan karanganmu dirampas pemerintahmu
sendiri! Tragis!
Kesan muram
setiap kali ingatanmu menghantarkanmu kepada Ayahmu, maka kenangan akan Ibumu
mengambil posisi yang berbeda. Bung mengenang Ibumu dengan sepenuh kasih. Nyaris
tak ada ingatan yang cacat setiap kamu mengenang Ibu. Melulu indah, melulu
haru.
“Menurut saya,
ibu saya itu ibu yang ideal. Ini saya katakana bukan saja karena karena saya
adalah anaknya. Tapi makan lama makin terkenang apa yang dilakukannya,” Bung kini
terlempar ke pelukan Ibumu. Bung lalu berkisah tentang Ibu dalam keseharian
Bung. Ibu Bung itu berumur 18 tahun saat menikah dengan Ayah Bung. Ayah Bung
sendiri 32. Ia adalah murid Ayah Bung di HIS, sekolah dasar pemerintah Belanda.
Ibulah yang
mengisahkan Bung dongeng serta fabel. Selain dongeng dan fabel itu, ia juga
kisahkan kepada Bung tentang tokoh-tokoh yang berjasa dalam pergerakan
nasional: para dokter, ahli hukum, dan insinyur sipil. Ia kisahkan kepadamu
perihal kebesaran Imam Sujudi, Soetomo, Satiman Wirjosandojo, Soekarno,
Sartono, Tjipto Mangoenkoesoemo. Meski begitu, Bung kadang mengingat Ibu lebih
sebagai anak-anak ketimbang seorang ibu. Bung ingat betul Ibumu itu kerap kali
tertidur sebelum kamu dengan buku masih terbuka di pangkuannya.
Ibumu itu,
Bung, sebagaimana kau kenang, adalah Ibu yang selalu mengajarkan kerja keras.
Didikannya itulah yang membuat Bung semakin menghormatinya. “Jangan jadi
pegawai negeri, jadilah majikan atas dirimu sendiri. Jangan makan keringat
orang lain, makanlah keringatmu sendiri. Dan itu dibuktikan dengan kerja!”
Begitulah Ibumu suatu kali berpesan.
Kerja, ya,
kerja! Ibumu selalu mengajarkan tentang pentingnya kerja beserta filosofinya.
Bung masih terkenang, pada umur Bung belum genap 17, Bung bekerja sebagai
penggembala kambing. Bung kerja mencari daun untuk makanan kambing. Ah, Bung
selalu diselimuti rasa malu saat bertemu dengan murid-murid Gubernemen. Mereka
mengejek dan menghina Bung. “Bu, saya malu menjadi penggembala mencari daun
untuk kambing.” Begitu keluhmu suatu hari. Dan begini kata Ibumu, “Yang harus
malu itu mereka, karena mereka takut untuk kerja. Kau kan kerja. Kau tidak
boleh malu. Semua orang bekerja, itu adalah mulia. Yang tidak bekerja yang
tidak punya kemuliaan!”
Ibumu itu
adalah Ibu yang selalu mendukung apapun cita-citamu—tidak seperti Ayahmu yang
terkesan meremehkan kemampuanmu. Pada periode ketika Ayah Bung kerap tak ada di
rumah, Ibumulah yang bekerja menghidupi keluarga. Itu menjelang musim panas,
1940. Ia berusaha mencari uang dengan caranya sendiri. Lalu suatu hari Bung
terkejut saat Ibu bertanya Bung ingin sekolah apa. Bung jawab juga pertanyaan
itu: “Aku memutuskan teknik yang dibagi dalam tiga semester, masing-masing
selama enam bulan… dan, ada hubungannya dengan teknik elektro, yaitu Sekolah
Teknik Radio di Surabaya. dan Ibu Bung tanpa berfikir lagi menyanggupinya. Lalu
Bung berangkat lah ke Surabaya menumpang Kereta Uap Semarang-Joana dengan
membawa hadiah dari Ibu Bung: sebuah jam tangan, sepasang sepatu kulit Bata,
dan dua cincin emas untuk digunakan dalam keadaan darurat. Umur Bung saat itu
baru 16 tahun.
Tapi tiba-tiba
wajah Bung menjadi mendung. Bung terlempar ke bulan Mei 1942. Bung teringat
kematian Ibu yang memilukan. Ia meninggal terkena tuberculosis. “Aku tahu,
bahwa ketika seorang meninggal karena tuberculosis, bakteri keluar dari mulut
dan hidungnya. Orang berkata bahwa jika kita meletakkan sebuah telur goreng di
wajahnya, sebuah lubang kecil pada telur itu akan menelan semua bakteri itu.”
Begitu Bung mengenang. Tapi Bung dituntun keyakinan dalam hati, bahwa Ibumu tak
akan membunuhmu dengan bakteri. Bung menghampiri Ibu, lalu merangkul tubuhnya
yang dingin. Bung mencium tepat pada keningnya!
Bung dirundung sedih: Ibumu itu tak meninggalkan pesan apa-apa.
Ibumu Bung,
meninggal 34 tahun. Ayah Bung pada umur 50-an. Keduanya sama-sama muda…
Malam semakin larut. Kita tenggelam dalam percakapan yang membawa Bung ke pedalaman sejarah, aku ke pedalaman relung batin Bung…
*******
Dini hari,
pukul lima. Aku terbangun oleh langkah kaki. Bung melangkah pelan dari lantai
dua. Sepagi ini Bung membuka pintu depan. Keluar halaman. Aku yang tertidur di
depan televisi, lantas terbangun. Bangkt! Ke kamar mandi cuci muka.
Ah, aku tahu
kebiasaan Bung bangun sepagi ini. Istri dan cucu-cucu Bung masih lelap
tertidur. Kopi pagi belum tersedia. Matahari baru datang sebagai bias cahaya.
Bung akan membakar sampah tak jauh dari pagar rumah.
Melihat aku di
belakang Bung, Bung menanyakan apa aku semalam tidur nyenyak. Tentu saja
nyenyak, aku jawab. lalu aku menyusul Bung, menghampiri ember sampah seng
merah. Bung mengenakan sarung. Rokok kretek sudah bertengger di bibirmu, Bung.
Sampah-sampah kertas, sobekan-sobekan kain, plastik-plastik dari dapur, dan
sebagainya, dimasukkan ke dalam ember. Bersesak-sesakkanlah mereka di sana.
Bung membuka
pagar, lalu melangkah dan membelok kea rah kiri. Sekitar seratus langkah kita
tiba di tempat pembakaran sampah.
Di sana sudah
ada tumpukan sampah lain. Ada sisa-sisa pembakaran di tempat lain. Bung
menumpahkan sampah. Ah, Bung lupa membawa korek. Sementara tak ada api di sana.
Untung aku bawa korek. Bung pun membakar sehelai Koran bekas. Menyala, lalu
menyulutkannya ke benda lainnya. Api perlahan menyebar, perlahan membesar.
Menghangatkan tubuh yang didinginkan angin pagi!
Bung menatap
api itu seperti menatap sesuatu yang sebentar lagi pergi. Barangkali juga Bung
membayangkan hal yang lain. Bung kemudian berkata, " Membakar sampah mengingatkan saya pada revolusi.
Revolusi itu persis orang membakar sampah. Ia bukan sekadar membuang,
melemparkan, dan menimbun semua yang kotor, juga tak berguna. Ia melapangkan.
Membawa hawa bebas. "
Subuh begini
Bung sudah berbicara revolusi. Apa yang Bung kenang terhadap revolusi?
Bung jelas
sekali mengagumi revolusi. Bung bahkan ikut terlibat dengan cara sendiri untuk
mendorong dan menuntaskan revolusi. Nah, Bung lalu menatapku. Menjelaskan
dengan getaran di pita suara, perihal revolusi Indonesia yang Bung kagumi itu.
Bagi Bung, Revolusi Indonesia 1945 adalah sesuatu yang absolute. Revolusi
berada di atas seluruh konstruk sejarah.
Bagi Bung,
revolusi itu ibarat ujian sekolah. Yang tidak lulus dalam revolusi nasional ini
takkan lulus dalam ujian selanjutnya, setidak-tidaknya dia akan terus hidup
berpura-pura, kehilangan intensitas hidup, kehilangan yang orang lain dapatkan:
nilai pribadi dan nilai sosial.
Revolusi
Indonesia itu pembebas puluhan juta orang. Revolusi Indonesia itu, jelas Bung,
lebih unggul dari revolusi-revolusi mana pun di dunia ini. ah, Bung, apa ini
pernyataan yang tak berlebihan? “Lebih hebat, ya, tanpa batasan waktu, lebih
hebat dibandingkan (misalnya) Revolusi Industri. Sering dikatakan bahwa
Revolusi Industri adalah revolusi pertama produksi di mana tenaga di mana
tenaga manusia digantikan mesin. Masa kita hidup, kita dengar pula, adalah masa
revolusi produksi yang kedua, di mana komputer menggantikan menggantikan otak
manusia.” Sampai di sini Bung berhenti sejenak. Bung menyulut api ke rokok Bung
yang baru, pengganti rokok yang sudah habis.
“Kendati
demikian, meski pun manusia bisa tersesat tanpa informasi yang disampaikan
komputer dan tanpa tujuan hidup yang telah didefinisikan oleh mesin, kita tetap
harus bertahan pada keyakinan bahwa manusia lebih utama, dan bahwa ia bisa
lebih tinggi dari kondisi subsisten…”
Kata-kata Bung
tegas, meluncur lancar ke dalam otakku. Iya, Bung sudah menerangkan dengan
gamblang peran Revolusi Indonesia bagi jutaan rakyat. “Hanya mereka yang
dibutakan oleh kecakapan duniawi yang lebih terkesan pada revolusi-revolusi
tadi. Betapa eloknya Revolusi Indonesia, Ibu segala kebijakan, Pradnya
Paramitha… ”
Pradnya
Paramitha, bukankah itu nama asli Ibu Bung? Nama asli yang baru Bung ketahui
saat ia meninggal, dan tertera dengan jelas di batu nisan kayunya? Ah, berarti
Bung hendak berkata, bahwa Ibu Bung adalah revolusi, Revolusi adalah Ibu Bung.
Kekaguman pada
Revolusi dan keinginan untuk menuntaskannya membuat Bung harus berpolemik dengan
banyak orang. Masalah pokoknya: ada perbenturan antara dua pendapat;
revolusi sudah atau belum selesai. Yang lain-lain adalah masalah ikutan daripadanya. “Saya sendiri berpendapat, memang belum selesai. Buktinya belum pernah muncul sejarah revolusi
Indonesia. Karena memang belum ada
distansi dengannya. Belum merupakan kebulatan yang selesai. Maka para sejarawan takut. Malah kata
revolusi nasional cenderung dinamai
dan dibatasi sebagai perang kemerdekaan.”
Perbincangan
soal revolusi berhenti saat sampah yang dibakar menjelma abu. Kita beranjak
pergi dari sana. Aku membawa ember sampah. Bung berjalan di sampingku.
Setiba di rumah
Bung, kopi pagi telah tersedia di meja bundar di beranda. Kita menikmati pagi
bersama. Kepul asap rokok Bung berlomba dengan kepul tipis dari kopi dalam
cangkir cokelatmu. Aku bertanya, apakah Bung pernah berusaha berhenti merokok.
“Dari dulu saya merokok tak pernah terpisah dengan aktifitas menulis dan
membaca. Waktu di Pulau Buru kami susah mendapatkan rokok, jadi kami tanam
sendiri tembakau. Daunnya keras. Tapi kami tak peduli. Jika kertas rokok habis,
kertas injil pun kami pakai. Hahaha…! Bung tertawa renyah. Ini pertama kali aku
lihat Bung tertawa. Ada satu gigi depan Bung yang tanggal.
Dalam umurmu
Bung yang semakin senja ini, ada sisa-sisa otot yang keras ditempa kerja yang
yang juga keras. “Memang sebelum di Buru, aku jarang melakukan sport. Aku hanya
merokok dan menulis. Tapi sejak di Buru, aku jadi rajin sport. Aku semakin
menjaga kesehatan. Sampai sekarang, aku masih sering mengkonsumsi bawang putih
mentah, aku kunyah agar tetap sehat!”
Tak lama
kemudian, kopi tandas. Bung dan aku beranjak masuk, langsung menuju lantai dua,
tempat ruang perpustakaan yang terhubung dengan kamar Bung berada. Setiba di
sana, bung langsung membereskan Koran-koran bahan kliping. “Saya sekarang ini
tidak lagi menulis. Pengalaman Buru melepaskan otak saya dari yang dulu-dulu.
Saya tak mampu mengingat lagi. Bahkan tulisan saya sendiri.Saya juga terkena
writersblock. Setiap pengarang bisa kena writersblock. Pekerjaan kliping bisa
meringankan beban saya. Sekaligus kesempatan untuk mempelajari dan mengenal
tanah air sendiri. “
Aku turut
membantu. Membersihkan mesin ketik Bung yang sedikit berdebu. “Dulu saya
seorang tukang ketik. Tapi sekarang tiap baris ada yang salah ketik. Mungkin
karena kaca mata saya. Saya segan memeriksakan mata saya.” Bung menjelaskan
sambil teruskan membereskan Koran-koran.
Barangkali Bung
menebak pertanyaan dalam benak saya soal menulis, mengkliping, dan mengetik
ini, Bung lalu menyambung, “dulu saya menempuh sekolah selama sepuluh tahun, yang
seharusnya tujuh tahun. Ayah saya malu sekali. Jadi dalam mencurahkan perasaan
saya itu, tak berani ngomong sama orang, jadi saya tulis.”
Oh, jadi memang
sejarah masa kecil Bung adalah sejarah keminderan. “Minder saya itu lama sampai
saya berumur 28. Pada umur itu saya pergi ke Belanda, dan saya bertemu dengan
gadis Belanda dan menjadi pacar saya. Dengan memiliki pacar orang Belanda,
minder saya jadi hilang. Hahaha!” Bung tertawa keras. Aku ikut tertawa.
Mataku jatuh
pada selembar kertas, yang rupanya adalah fax dari pemerintah Indonesia.Fax itu
berisi keputusan Jaksa Agung RI yang melarang beredarnya Nyanyi Sunyi Seorang
Bisu, terbitan Lentera. Pertimbangannya: isinya dapat menganggu ketertiban
umum.
Aku penasaran
Bung, buku-buku Bung yang dilarang itu disimpan di mana? Bung tiba-tiba diam.
Lalu telunjuk tangan kanan Bung goyangkan kiri-kanan. “Itu tak boleh disebut.
Rahasia. Tidak boleh disebut!”
Maafkan Bung,
pertanyaanku yan terkesan lancang itu. Bung menjelaskan lagi, soal
penyitaan ini sudah biasa buat bung. Polisi biasanya datang. ”Ada penyitaan itu
biasa. Kalau tak dilarang, dianggap merehabilitasi nama saya.”
Ruangan
perpustakaan sudah rapih. Di balkon atas, Bung mengajak saya. Di bawah,
terdengar suara-suara anak kecil. Ah, cucu-cucu Bung sudah bangun rupanya. Lalu
ada beberapa orang yang datang, Bung bilang itu beberapa anak Bung. Lalu Bung
pun berkisah tentang mereka: “anak-anak saya sangat menderita sejak saya di
Pulau Buru. Mereka dihina dan diejek. Anak termuda di SMA dikeroyok temannya
karena anak tapol. Ia melawan, datang polisi. Yang ditangkap justru anak saya.
Dan dikenakan wajib lapor. Anak saya yang pintar, waktu akan ujian lulus, ia
tidak dibiarkan ikut.”
Getar suara
Bung menusuk udara di telingaku. Aku merasakan benar perasaan dan penderitaan
Bung. “Saya menyesal tak bisa mendidik anak-anak saya. Mereka trauma. Tak punya
apa-apa. Karena semua harta disita. Mereka diejek sebagai anak tapol.”
Persoalan
pengasingan di Pulau Buru beserta segala dampak yang mengikutinya berkelindan
di kepalamu pagi itu, Bung. Kamu meradang, kamu marah, kamu tak berdaya. Kamu
bilang, dalam keadaan sadar kamu sudah berusaha menertawakan semuanya. Tapi tak
urung juga trauma hadir bagai hantu merasuk ke dalam mimpi-mimpimu. Trauma
penahanan. Kamu bermimpi tentang perampasan, kamu bermimpi tentang penipuan,
tentang penganiayaan, diuber-uber…
Padahal kamu
sudah menganggap sudah melewati masa takutmu selama melewati rezim Orde Baru.
Kamu juga sudah siap mati pada umur 24 saat satu peristiwa mistik mendatangimu
di Tahanan Bukit Duri…
“Asal perasaan aman. Tak aman, saya di rumah saja. Perasaan aman penting bagi kehidupan orang. Tak aman jadi beban batin. Teman-teman yang menyayangi saya, diharapkan jangan keluar sendirian. Harus ada yang mengawal. Biar tak hilang di jalanan. Sebetulnya saya ini seorang penyendiri, introvert. Pergaulan tak mutlak saya perlukan. Karena itu, berkali-kali dalam tahanan, tak ada persoalan bagi saya. Karena saya ini seorang penyendiri.”
Kau hidup dalam
terror mental yang disebarkan rezim. Tapi kau kau tetap melawan, Bung. Kamu
punya Negaramu sendiri. Sebagaimana kau katakan, “Negara saya adalah sekeliling
pagar rumah saya. Itulah Negara saya.”
Di negaramu
itu, kau hidup bersama rakyat yang kau sayangi: istri, anak-anak dan cucu-cucu
yang lucu…
******
Pada mulanya
adalah Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, disingkat Baperki. Ia
adalah organisasi yang didirikan di Jakarta Maret 1954. Pada saat Baperki
lahir, dunia pendidikan belum betul-betul terjangkau seluruh kalangan,
khususnya rakyat bawah. Maka dengan melihat tantangan berupa kesenjangan ini,
Siauw Giok Tjhan, wartawan dan aktivis politik, ketua Baperki, memprakarsai
pengumpulan dana dari kalangan Pribumi dan keturunan. Empat tahun kemudian,
yakni pada 1958, berdirilah Universitas Baperki.
Beberapa lama
kemudian, Universitas Baperki berubah menjadi Universitas Res Publica.
Orang-orang menyebutnya: Ureca. Nama ini berasal dari pidato Bung Karno yang
berarti: Untuk Kepentingan Umum.
Ureca terus berkibar, memberikan peluang pendidikan untuk seluruh kalangan. Ureca-lah yang kemudian dikenal sebagai satu-satunya Universitas swasta yang pertama-tama memiliki seorang Rektor perempuan.
Kemudian
peristiwa G30S 1965 pecah. Universitas Res Publica ini kena dampaknya. Karena
dianggap menjadi kendaraan kaum komunis, Res Publica dibubarkan.
Baperki,organisasi yang mendirikannya dari uang rakyat, juga dibubarkan. Itu
pada tahun 1966. Res Publica lalu berganti Trisakti. Universitas Trisakti.
Menghilangnya nama Res Publica seturut dengan terampasnya hak dan kebebasan
seorang pengarang besar yang pernah mengajar di Universitas rakyat ini.
Pengarang itu adalah kamu, Bung. Pramoedya Ananta Toer. Kamu pernah mengajar
sejarah di sana.
Di mana Bung
saat peristiwa itu? Kamu berada di rumah, mendengarkan radio. Kamu mendapat
berita dari radio tentang adanya gerakan Untung. Kemudian berita tentang susunan nama Dewan Revolusi. Sebelum itu pengumuman naik pangkat para prajurit yang ikut
dalam gerakan Untung dan penurunan pangkat bagi mereka yang jadi perwira di atas letkol. Sudah pada waktu itu kamu terheran-heran, kok
belum-belum sudah mengurusi pangkat?
Ini gerakan apa, oleh siapa?
Apa pendapatmu
Bung terhadap berita Untung itu? “Pertama: sejak semula saya sependapat bahwa gerakan Untung, yang kemudian dinamai
G-30S/PKI, adalah gerakan dalam tubuh angkatan darat sendiri. Pendapat itu
tetap bertahan sampai sekarang.”
Peristiwa itulah yang mengantarkanmu pada penderitaan berpanjangan. Keadaan mencekam. Telah banyak orang-orang dekatmu menyarankan kau bersembunyi mencari tempat aman. Tapi kau menolak. “Ini rumah saya. Saya harus pergi ke mana?” Iya, saat itu kamu hanya berdua bersama adikmu. Istrimu sedang istirahat di rumah orang-tuanya, setelah melahirkan anakmu yang kelima—lahir laki-laki, anak yang kau tunggu-tunggu setelah empat yang sebelumnya semua perempuan.
Kamu cerita,
hubungan terakhirmu dengan Universitas Res Publica saat seorang pegawai
tatausaha Universitas itu datang ke rumahmu menyerahkan honor, dan mengatakan Universitas ditutup karena keadaan tidak aman. Ia menyerahkan honor lipat dari
biasanya. Beberapa hari kemudian
datang pegawai dari pabrik pensil, juga menyerahkan honor, juga lipat dari biasanya, karena pabrik
terpaksa ditutup, keadaan gawat.
Kamu
digelandang. Bersama banyak orang, kamu dibawa ke suatu tempat. Kamu tak sadar,
kamu berdarah. Sebuah hantaman popor senjata mengenai telingamu. Kamu minta
barang-barang di rumahmu diamankan. Tapi tidak: perpustakaanmu diobrak-abrik.
Naskah-naskahmu dibakar. Termasuk cerpen-cerpen Bung Karno yang tengah kau
sunting. Dan honor yang kau terima dari Universitas dan pabrik pensil pada
gilirannya diambil dan tak dikembalikan saat kamu ditangkap, atas alasan agar
tak dicuri oleh sesama tawanan.
Dan perampasan
demi perampasan mulai berlaku padamu. Rumah fisikmu dihancurkan. Rumah
Indonesiamu tumbang menjadi puing-puing…
Kamu lalu
mengembara dari penjara ke penjara. Empat tahun kamu meringkuk di tahanan
Salemba, Jakarta. Sebulan di kamp penampungan Nusa Kambangan. Maka pada 16
Agustus 1969, kamu pun diberangkatkan ke Pulau Buru. Tempatmu
bakal ditahan 1.500 kilometer ke arah timur.
Di atas kapal
yang membawamu, kamu teringat Sutan Sjahrir. Ingatan itu kamu tulis di atas
kapal yang terus oleng oleh angin Agustus. Tokoh ini tak pernah dikisahkan oleh
ibumu. Kamu mengenal Sjahrir saat kamu membaca surat-surat tokoh intelektual
Indonesia itu. Kamu baca surat itu di penjara Cipinang, penjara yang sama saat
Sjahrir menulis suratnya. Sjahrir berumur 27 tahun saat dibuang, dan kamu
berusia 43 ketika membawa surat-suratnya.
Ingatanmu atas
laki-laki yang sohor dipanggil Bung Kecil itu muncul karena kamu dan dia
terpaut oleh nasib yang sama: sama-sama dibuang, sama-sama berlayar, sama-sama
terenggut haknya, sama-sama menulis surat kepada keluarga kalian. Cuma di waktu
yang berbeda. Hanya saja, Bung, kamu sendiri skeptis dengan peran Sjahrir dalam
gerakan perlawanan Indonesia menentang fasisme serta dalam revolusi 1945.
Kamu hanya
membawa dua pasang pakaian—sebagaimana ketentuan yang berlaku. Nomor tahananmu
541. Kamu menempati kamar seluas 2,5X2,75 m. Tingginya 2,5 m. berlantai tanah.
Hartamu adalah sebuah peti yang nantinya bakal berisi naskah-naskahmu beserta
pakaianmu. Sepatu, asbak, dan sebagainya tergeletak di sudut-sudut kamarmu.
Di Buru, kamu harus bekerja keras di bawah pengawasan ketat para tentara penjaga kamp, perwira pengawas, komandan, dan lain-lain. Mereka kau kenal kejam. Meski begitu, beberapa dari mereka adalah para pesolek. Kamu mencatat, ada Komandan Tefaat, Letkol A.S. Rangkuti yang katanya pernah main dalam film. Ada Letnan Eddy Tuswara (bekas perwira Cakrabirawa) yang suka bercelana renang, memamerkan bentuk pahanya yang bagus. Ada juga Wing Wiryawan (panglima Pattimura) yang baru menjalani operasi di Nederland, jadi langsing, dua puluh kilo gemuk diambil.
Kamu tinggal bersama para tapol yang lain. Pukul lima kamu dan mereka bangun. Kamu tahu bahwa dalam kamp kau akan bekerja keras, kau mulai berlatih sport. Sport membuatmu percaya diri, ceria, meski pun tak memberimu pengharapan. Benjolan hernia yang kau derita juga sedikit teratasi oleh sport. “Di penjara Glodok, seorang penjahat perwira Jepang masih melakukan jogging beberapa menit sebelum naik tiang gantungan. Lupa aku tahunnya, mungkin 1947.” Kamu menceritakan kasus itu karena sadar, modal hidupmu tinggal badanmu yang sebatang itu.
Waktu demi
waktu bergulir. Kamu dan para tapol di pulau Buru harus bekerja secara paksa.
Sialnya, hasil-hasil kerjamu dan yang lainnya kebanyakan diambil
oleh komandan. Sialnya lagi, kalian masih harus membangun barak-barak sendiri,
membuat jalan-jalan, membuka persawahan. Semua itu kalian lakukan di
tengah-tengah penduduk pulau yang masih kanibal, tanahnya tandus dan gersang,
penuh dengan binatang-binatang buas.
Sepuluh tahun
kamu dan tapol lainnya diisolasi di Buru, kalian telah mencetak sawah dan
ladang seluas 3.532,588,1 hektar, dan dibangun jalan lingkungan dan arteri
sepanjang 175 kilometer, berikut bendungan dan jaringan irigasi. Itu semua
kalian dilakukan tanpa bantuan pembiayaan dari luar. belum terhitung
barak-barak, masjid, gereja, sekolah, pasar, dermaga, dan sebagainya.
Kamu mencatat
dan terus mencatat. Kamu catat pekerjaan apa yang pertama-tama dilakukan tapol
di Buru. Kamu catat siapa-siapa temanmu yang meninggal dalam kerja, terkena
penyakit, atau disiksa. Kamu terus mengabadikan. Mengabadikan mereka dengan
menulis. Menulis untuk yang dilupakan dan terlupakan…
Kamu lakukan
itu di tengah-tengah pendengaranmu yang semakin buruk. Kamu tuli. Pendengaranmu
dirampas popor senjata tentara. Tapi kamu tak jatuh ke dalam lembah
keputusasaan. Kamu terus menulis dan menulis. Perlahan-lahan kau mulai
merancang naskah-naskah untuk dituliskan. Kamu selalu punya pengharapan, Bung.
Rumah apa lagi yang hendak kau bangun dengan tulisanmu itu? Tidak kah
pengalaman menyakitkan di mana buku-bukumu dirampas, disita, dibakar, sampai
membuat kau dipenjara membuatmu jera menulis? Tugas nasional, tugas nasional.
Masihkah alasan itu yang kau pakai? Sementara kau tahu, rezim di bawah mana kau
menulis kini tak punya kesadaran nasional sebagaimana kau yakini. Mereka telah
menjual bangsanya ke pihak asing.
Kau mengagumi
Soekarno. Kau berdiri di sisinya, membela keyakinan-keyakinannya, meski pada
beberapa hal kecil kamu berbeda pendapat dengannya. Kamu sering kali meluruskan
anggapan orang-orang yang mengatakan bahwa Bung juga dipenjara di bawah rezim Bung
Karno.”Bukan Bung Karno yang memenjarakan saya. Tapi Angkatan Darat.”
Kamu
menjelaskan, “Bung Karno itu orang besar. Satu orang itu
sudah bisa menyatukan Indonesia secara politik. secara administrasi, sudah
dilakukan belanda. Bung Karno meninggal sebagai Tapol oleh seorang
bekas sersan KNIL: Soeharto. Soeharto itu tak punya saham apa-apa dalam gerakan
kemerdekaan. Bahkan sebaliknya. Karena KNIL itu adalah tentara bayaran untuk
menaklukkan rakyat Indonesia.”
Bung Karno
meninggal. Kamu menerima berita kematian Bung Karno itu saat kamu berada di
Pulau Buru, lewat Komandan Unit Kapten Daeng Masiga. Kapten itu adalah bekas
ajudan Bung Karno. Kamu mengenang, saat berita kematian itu tiba, diadakanlah
acara mengenang Bung Karno. Saat pidato dibacakan banyak yang menangis. Kamu
Bung, juga menangis.
Di Pulau Buru,
mulailah rencanamu menyelesaikan naskah-naskah. Ibarat usia kehamilan, kepalamu
sudah mengandung ‘anak-anak’ ruhani yang mendekati masa lahir. Sebetulnya,
sudah lama kepala kau itu mengandung. Namun karena kondisi politik yang
berubah, rahim yang mengandung ‘anak-anak’ ruhanimu terganggu.
Berawal dari
Universitas Res Publica. Di sana kau mengajar sejarah. Senantiasa
segar di ingatanmu, kamu menolak saat diminta mengajar sejarah di sana.
“Bagaimana bisa saya mengajar, kalau sekolah saja tidak tamat?” Lalu kau bikin
metode mengajar tersendiri. Kamu wajibkan mahasiswa yang kau ajar untuk membaca
Koran selama satu tahun. Mereka kau wajibkan membuat ringkasan. Dari sanalah
bahan-bahanmu bersumber. Hanya mungkin ‘anak-anak’mu itu harus lahir bukan
seperti yang direncanakan. Dari rencana penulisan ilmiah, kini beralih ke
roman. Itu karena bahan-bahan tadi sudah lenyap.
Cerita-cerita
itu memang tak langsung kau tulis. Garis besarnya kau gulirkan kepada
teman-temanmu. Bung, bagaimana awalnya kau ceritakan kisahmu itu? “Waktu itu,” kau menjelaskan, “ ada pembunuhan
terhadap lebih dari sebelas Tapol. Itu membuat moril tapol yang lain merosot. Penganiayaan
juga semakin keras. Maka untuk menaikkan kembali moril mereka, saya ceritaka
Nyai Ontosoroh kepada mereka. “Lihat itu Nyai Ontosoroh, dia perempuan,
sendirian melawan kekuasaan colonial. Seorang diri. Kalian bagaimana, semua
laki-laki? Dan saya bersyukur, usaha saya berhasil!”
Dan Bung melanjutkan, Bung ceritakan kepada mereka pada malam hari setelah kerja. Pada pagi hari, cerita itu diceritakan kembali oleh teman-teman Bung ke tapol lainnya seusai apel pagi hari. Memang di tengah-tengah pengasingan juga ada seorang dalang yang pintar bercerita, jadi ia yang menyebarkan cerita Bung.
Dan Bung kejatuhan durian runtuh yang membuat Bung semakin bebas menulis. Pada 1973 Bung dibebaskan untuk menulis. Ini tak lepas dari peran dunia internasional yang terus mendesak pemerintah Indonesia memberikan kebebasan kepadamu untuk menulis. Beberapa orang bahkan mulai mengumpulkan tanda tangan untuk mendukung rencana itu. Di Eropa, seorang filsuf dan sastrawan bernama Jean Paul Sastre menghadiahkan Bung sebuahmesin ketik. Sayangnya, mesin ketik itu tak pernah sampai ke tanganmu. Ah, rezim Orba tak pernah berhenti merampas apapun yang seharusnya menjadi hakmu.
Meski begitu, naskah-naskah yang Bung tulis masih tetap rawan dirampas rezim. Maka setiap kali Bung menulis, Bung senantiasa menyalinnya dalam beberapa salinan. “Di antaranya saya kirim ke luar kamp, dan diserahkan kepada Romo Roovink. Maka Romo Roovink-lah yang kemudian menyelamatkan naskah-naskah saya.”
Mulailah Bung
menulis roman tentang satu periode yang dimulai pada tahun 1908. Bung menulis
periode itu, karena menurut Bung, pada masa itu lahirlah kebijakan colonial
bernama etische politic, Politik
Etis. “Itu yang banyak memutar kenyataan-kenyataan dalam sejarah gerakan
kemerdekaan.”
Maka pada musim panas tahun 1980 terbitlah bagian pertama dari Tetralogi: Bumi Manusia. Kemudian berturut-turut sisanya terbit pada tahun 1983 (Anak Semua Bangsa), 1985 (Jejak Langkah) dan 1988 (Rumah Kaca). Tentu dengan terbitnya empat roman dalam kesatuan tetralogi Buru ini membuat rezim Soeharto gerah. Satu persatu romanmu ditarik dari peredaran. Dan setahun setelah bagian terakhir roman itu terbit, yakin pada 1989, dua orang mahasiswa di Jogjakarta yang menjual buku-bukumu ditahan dan dihukum delapan tahun penjara.
Penerbitan empat roman itu dilakukan tak lama setelah kau dibebaskan pada 21 Desember1979. Bung tentu selalu ingat, pembebasan itu tidak sepenuh-penuhnya bebas. Bung masih harus melapor setiap minggu kepada kepolisian resort setempat.
Terbitnya
roman-roman Bung semakin membuat namamu membumbung tinggi. Buku-bukumu
diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Di sudut-sudut bumi orang membaca
‘anak-anak’ ruhanimu. Tak terhitung banyaknya artikel, buku-buku, Koran-koran,
majalah-majalah yang menyediakan ruang untuk membahas ‘anak-anak’mu itu. Mereka
telah mencerahkan banyak orang, menginspirasi anak-anak muda.
*******
Sebentar lagi
senja turun. Aku harus bersiap-siap meninggalkan kediamanmu, Bung, Negara
kecilmu ini. Aku harus melanjutkan perjalananku. Aku hampiri Bung yang tengah
berada di ruang perpustakaan Bung. Aku membawa di tangan kananku sebuah naskah
kecil.
“Oiya, kamu
akan pulang sore ini. Langsung balik ke Makassar?”
“Belum, Bung
Pram. Saya akan ke Denpasar dulu! Saya akan bertemu seseorang di sana!”
Lalu aku
ulurkan naskah di tanganku ke hadapan Bung. “Ini naskah kecil yang aku tulis
bersama seseorang Bung. Beberapa bulan lamanya kami membaca dan mengulas
Tetralogi Buru yang bung tulis. Keempat roman itu kami baca lalu kami
diskusikan bab demi bab, baris demi baris. Kami saling berbagi kesan pembacaan
kami masing-masing. Itu kadang kami lakukan di tengah malam, atau dini hari.
Kami namai aktifitas kami sebagai Mengaji Tetralogi.”
“Hmm, Mengaji
Tetralogi. Terima kasih banyak sudah membaca karya saya ya. Itu sudah berarti
kalian sudah ikut membuat saya merasa terhormat. Memang saya berharap, pembaca
Indonesia yang membaca karya saya kemudian merasa menjadi berani, merasa lebih
kuat, itu saya menganggap tulisan saya berhasil. Kamu merasa seperti itu setelah
membaca karya saya?” Aku memberi Bung anggukan yang mantap.
“Bung ada yang
hendak disampaikan terkait roman tetralogi yang Bung tulis?”
“Tak ada. Aku
ini setiap kali selesai menulis, maka aku merasa tugasku sudah selesai. Jadi
kalau kau bertanya detail yang saya tulis, saya tak bisa menjawab. Karena saya
tak pernah membaca ulang karya saya. Hahaha!”
Melihat kau
tertawa, aku juga ikut tertawa senang.
Lalu kita berjalan beriringan ke lantai bawah. Tasku sudah ada di sana. aku hampir lupa memberimu sesuatu yang lain: kretek. Aku membawakanmu kretek, Bung. Kretek kesukaanmu. Bung tertawa kecil menerima hadih kecil itu.
Lalu kita pun
foto bersama. Salah seorang anak Bung memotret. Cucu-cucu Bung ikut serta.
Selepas itu, aku pamit. Bung melambaikan tangan, Ibu Maemunah melambaikan
tangan, anak dan cucu-cucu Bung semua melambaikan tangan.
Di luar pagar
saat menunggu taxi, aku dengar kamu bernyanyi di Negara kecilmu itu, ditingkahi
tawa cucu dalam gendonganmu. “Daun goyang-goyang ditiup angin.
Daun goyang-goyang ditiup angin…”
*Ini catatan lama yang saya tulis semasa masih di Makassar, dan aktif di komunitas Mengaji Pram.
*****
*Dedy Ahmad Hermansyah. Pustakawan di Komunitas Teman Baca, Kota Mataram, NTB.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar