Kamis, 28 September 2017

Berkunjung ke 'Negara Kecil' Bung Pram

*Dedy Ahmad Hermansyah






--sebuah wawancara imajiner--




Perjalanan ini semakin mendekatkanku padamu. Bung, aku datang membawa setumpuk kerinduan, juga pertanyaan-pertanyaan yang barangkali sudah sering kau dengar dari para peneliti, wartawan, anak-anak muda yang mendatangi rumahmu. Barangkali Bung sudah menyiapkan sekian jawaban yang sama untuk pertanyaan yang itu-itu juga. Melulu perihal luka-lukamu di masa lalu, cita-citamu yang membiru, dan segenap harapanmu untuk generasi muda yang semakin kukuh.

Bung, lima belas menit lagi aku tiba di hadapan pagar rumahmu. Rumahmu telah lama bermukim di kepalaku. Foto-foto dan video yang banyak tersebar di dunia maya-lah yang membangunnya. Tiga tingkat kan? Menjulang berwarna biru langit, kokoh—persis seperti gambaran dirimu di dalam otakku.

Rumah itu, barangkali bukanlah rumah yang benar-benar kau impikan. Ia hanya satu usaha pembuktian kepada mereka yang meremehkanmu—Bung bisa bangkit dan membangun rumah meski berpuluh tahun menderita.

Ah, Bung, aku jadi teringat dengan penjelasan seorang sejarawan muda tentang rumah dalam kehidupanmu. Ia katakan, Bung sedari kecil telah memimpikan rumah dalam dua pengertian: ruang dan fisik (home dan house). Sialnya, Bung terseok-seok membangunnya. Sepanjang umurmu, rumah dalam dua pengertian ini kacau balau, dihantam badai, dihancurkan oleh orang-orang yang tak punya jiwa peradaban tinggi.

Bung lahir di Blora, tapi kemudian pindah ke Jakarta. Bung punya ingatan yang memilukan saat mengenang Ayah dan Ibu Bung. Bung ditempa oleh kerasnya kehidupan di masa kecil, dipertajam untuk cinta kepada keadilan. Rumah masa lalu itu begitu buram dan muram.

Bung menulis, berfikir, bercita-cita tentang Indonesia yang semestinya. Tak berhenti di situ, cita-cita itu Bung perjuangkan. Dalam usaha perjuangan itu, musuh-musuh berdiri garang di hadapan Bung. Dengan kesadaran dan atas nama kewajiban nasional, Bung terus bergerak maju.

Hingga satu peristiwa paling memilukan terjadi di tanah air Indonesia ini. Itu pada tahun 1965. Seluruh bangunan rumah dalam dua pengertian itu hancur perlahan-lahan. Puing-puingnya menjadi luka yang terus Bung bawa ke tempat pengasingan Bung. Rumah yang Bung bangun dirampas tentara. Istri dan anak-anak Bung terlantar mencari rumah—rumah tempat berteduh dan rumah yang adalah Bung sebagai bagiannya.

Matahari sebentar lagi pulang. Aku sudah mendekati rumah Bung. Kepala terasa berat. Ada yang hendak meledak di sana. Barangkali sejenis kegembiraan yang berlebihan! Ah, akankah senyum dengan tawa kecilmu Bung yang akan diberikan kepadaku? Semoga saja!

Aku tiba Bung. Aku sudah membayar taxi. Barang-barangku—tas hitam besar dengan sebungkus plastik berisi hadiah kecil—sudah kuturunkan. Iya, alamatnya benar: Jl. Warung Ulan No. 9 Bojonggede, Bogor. Begitu yang tertera di plang yang melekat di tembok pagar rumah Bung. Nah, sekarang seorang perempuan tua berkaca mata mendatangi pagar. Senyumnya ia pasang. Ia membuka pintu pagar:

“Yang dari Makassar kan?”

“Iya, Bu. Dari Makassar!”

“Hayo, masuk!”

Ah, Bung, betapa ramah kata-katanya. Itu Ibu Maemunah, istri Bung yang luar biasa itu. Aku menjinjing tasku. Ibu Maemunah menuntunku. Ibu terus ke dalam, aku duduk di atas kursi depan meja bundar di beranda, membuka sepatu cokelatku. Suasana rumah Bung begitu sejuk dan lapang. Ada pepohonan dan berbagai jenis bunga. Bukit-bukit berkabut di kejauhan kini samar. Senja datang!

Aku dengar suara yang akrab di telingaku. Suara itu semakin mendekat. Semakin mantap. “Daun goyang-goyang ditiup angin. Daun goyang-goyang ditiup angin…”

Itu nyanyian yan ditingkahi suara anak kecil. Ah, bung datang dari balik pintu. Anak kecil di gendongan Bung itu pasti cucu yang lucu. Nah, lihat, ia terus memandang mulut Bung yang bernyanyi itu. Barangkali ia berusaha meniru gerak mulut Bung. Bung tertawa. Kantung mata Bung semakin menyembunyikan kedalaman pandang Bung.

Bung menurunkan cucu laki-laki Bung. Tepat di hadapanku. “Hayo, salaman dulu sama Om. Hehehe!” Ia mengulurkan tangan, aku menyambutnya hangat. Lalu ia lari ke dalam rumah. Lalu segera aku menyalami Bung. “Wah, jauh-jauh dari Makassar ya. Perjalanan lancar kan? Hayo masuk ke dalam. Sebentar lagi malam!”

Aku masuk. Berjalan di belakang Bung. Ah, Bung beraroma tembakau. Barangkali Bung belum pula mandi sore…



*****



Malam telah datang. Aku duduk di ruang tamu menghadap meja bundar. Di atas meja, setumpukan buku tergeletak. Cucu-cucumu, Bung, asyik bermain di depan televisi. Ada yang bermain ketapel dari tali karet yang diikat dari satu ujung tembok ke ujung lainnya. Kemoceng menjadi ‘batu-lontar’-nya. Ada pula yang tengah membolak-balik buku bergambar di atas kursi. Betap semarak, Bung!

Ibu Maemunah menghampiriku. Ia menawariku minum teh hangat—sudah tersedia di tangannya. Aku ucapkan terima-kasih. “Bapak sedang membereskan sesuatu di ruang perpustakaan. Sebentar lagi turun,” kata Ibu Maemunah.

“Bapak sekarang lebih sehat. Ia mulai kliping Koran lagi. Mulai merokok lagi. Beberapa hari lalu Bapak sakit. Kalau tubuhnya lemas, biasanya Bapak tak bisa naik ke perpustakaan di lantai dua. Perpustakaan Bapak terhubung dengan kamar tidur.”

Bung, inikah perempuan yang bertahun-tahun merawat anak-anakmu selama Bung di pengasingan? Perempuan inikah yang tak lelah-lelah menjaga dan merawat cintanya untuk Bung, hingga ia menolak saran Bung untuk menikah lagi? Ibu Maemunah, istri Bung itu, kini bercerita tentang perjalanan hidupnya. Ibu berkisah, sejak Bung ditahan, anak-anak menanyakan keberadaan Bung. Ibu lantas berkata, Bung keluar negeri. Anak-anak Bung baru mengetahui Bung ditahan sejak Ibu Maemunah mengajak mereka menjenguk Bung di penjara.

Ah, Bung, sisa-sisa kecantikan Ibu Maemunah masih dapat dijejaki di wajahnya yang kini tua. Dulu Bung bertemu Ibu di sebuah acara kan? Saat itu Ibu sedang bertugas menjaga stand buku. Bung terpesona olehnya. Lalu mendekatinya. Rupanya Bung punya saingan. Bung bersaing dengan pria flamboyan dalam banyak hal yang pernah dikenal negeri ini: Bung Karno. Bung tak surut langkah. Persaingan itu mengantarkan Bung sebagai pemenang. Bung menyebut persaingan itu: buaya kedahuluan buaya.

Tak lama kemudian, pada tahun 1955, Bung melamar Ibu Maemunah.  Luka masa lalu karena kegagalan pernikahan pertama kini terobati dengan hadirnya Ibu di dalam kehidupan Bung.

Suara langkah terpatah-patah menuruni tangga. Itu kamu, Bung. Bung berjalan sedikit gontai. Bung mengenakan baju kaos putih polos. Bersarung. Senyum Bung sudah mengembang sejak matamu terpaut padaku. Kantung matamu itu Bung. Membuatku tak bisa menatap kedalaman matamu. Kaca mata Bung menegaskan kantung matamu.

Bung lapar. Aku juga lapar. Bung mengajak ke meja makan. kita makan berdua. Ibu Maemunah sibuk menenangkan dan menjaga cucu-cucu Bung yang lucu-lucu itu. Tak bisa kubayangkan Bung. Jika ke-16 cucu Bung berkumpul bersama…


*****


Kita sekarang berada di ruang perpustakaan. Aku dan Bung. Sorot lampu berwarna susu menyapu benda-benda di ruangan Bung di lantai dua ini. lantai hitam-putih bercahaya terkena sinar. Bung duduk di kursi kerja, membelakangi sebuah lemari kaca yang panjang. Di sana ada buku-buku dengan kategori tertentu. Aku lihat semuanya berkaitan dengan sejarah. Di meja di hadapan Bung ada setumpuk Koran dan berkas-berkas yang acak-acakan.

Aku keluarkan sebuah gambar: siluet dua wajah, nyaris tak bisa dikenali antara lukisan atau sapuan kuas pelukis. Wajah pertama adalah laki-laki berpakaian putih berkancing. Laki-laki itu berkumis tipis. Kepalanya ditutupi blankon. Wajah kedua adalah perempuan berparas muda. Anting menghiasi kedua telinga. Rambutnya disanggul. Lehernya berkalung dengan mata-kalung serupa cincin.

Di bawah gambar itu ada keterangan yang menyebutkan bahwa laki-laki itu adalah putra tertua seorang guru agama atau naib. Perempuan disampingnya adalah putri tengah seorang petinggi keagamaan atau penghulu dari Rembang. “Itu gambar Ayah dan Ibu saya,” jelasmu, Bung. Iya, dua orang itu adalah orang-tuamu, Bung.

Sekarang wajahmu terlihat serius. Kamu seperti terlempar ke masa lalu, ke pedalaman sejarah. Kamu mulai berkisah tentang sejarah dirimu dan keluargamu, Bung.  

Bung lahir pada 6 Feburari 1925 di Blora. Masa itu masa kolonialisme. Bung katakana, Blora itu adalah kota kecil agraris yang miskin. Kamu mengingat, pada masa Jepang, masyarakat Blora menanam cili, kapuk dan jerami untuk dieskpor ke Jepang. Masa kecilmu dilewati di sebuah kota kecil terpencil, lalu terbebaskan dari keterasingan dengan dibangunya perlintasan kereta api dari Rembang menuju Cepu, yang merupakan tempat berdirinya Bataafsche Petroleum Maatschappij (Perseroan Minyak Batavia).

Kamu mulai berkisah tentang Ayahmu. Ayahmu seorang nasionalis kiri, ibumu berasa dari kelas feodal. Namun terpengaruh oleh suaminya, ia pun menjadi nasionalis kiri. Maka pendidikanmu sejak kecil adalah nasionalisme kiri. Orang-tua Bung menanamkan ideologi sejak kecil untuk selalu mencintai keadilan, kebaikan dan alam, serta nasionalisme. Ideologi itu terus melekat dalam dirimu, Bung. Berurat-berakar.

Perjalanan hidup keluarga Bung bukan tanpa lika-liku. Salah satu pemicu ‘keras’-nya perjalanan hidup keluargamu adalah pemikiran dan pendirian politik kedua orang-tuamu. “Bapak saya meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di Hollands-Indische School. Saat itu, dia menjadi pemimpin gerakan sekolah Boedi Oetomo. Di bawah kepemimpinan ayah saya, sekolah itu berubah haluan menjadi anti-kolonial.” Konsekwensinya, pendapatan keluarga menjadi surut. Di sekolah pemerintah, Ayah Bung digaji 200 gulden. Tapi karena aktifitas politiknya yang menentang colonial, Ayah Bung hanya mendapat 18 gulden dari mengajar di si sekolah Boedi Oetomo. Ayah Bung memang menjadi ketua Partai Nasional Indonesia (PNI). Ia juga ketua kehormatan gerakan Pramuka.

Ah, Bung. Aku menangkap kesan, ingatan Bung kepada ayah Bung nyaris tanpa kelembutan. Meski begitu, Bung benar-benar belajar dari ayah Bung untuk tetap konsisten dalam bersikap. Bung terkesan membenci ayah Bung, namun sekaligus mencintainya. Iya kan? Ingatan tentang ayah Bung selalu soal ketegasan yang diperlihatkan dengan ‘keras’. Berulang-ulang kali dalam wawancara dengan pertanyaan soal hubungannya dengan ayah Bung, Bung mengucapkan, bahwa ayah Bung marah besar saat Bung berkali-kali tak naik kelas. Bung pernah dikatakan goblok oleh ayah Bung. Bung dilarang melanjutkan kelas, harus mengulangnya dari kelas pertama. Bung pernah meminta Ayah mengirimkan uang untuk membeli buku yang Bung minati, namun kiriman itu tak pernah ada.

Ayah Bung pernah dilanda depresi dan meninggalkan rumah, mengabaikan Ibu dan adik-adik Bung, mabuk-mabukan dan bermain judi. Maka saat Bung meniru hal yang serupa dan Bung kedapatan, ia menghardik, “berhenti! Jangan teruskan. Kalau kau sudah punya penghasilan sendiri, kau bisa berbuat semaumu dengan penghasilanmu. Tetapi kau belum punya penghasilan apa-apa. Berhenti!” sebab itu Bung menyebut ayah  Bung seorang liberal!

Dalam beberapa hal, di kemudian hari, Bung mengalami apa yang dialami ayahmu. Ayahmu seorang pengarang puisi dan prosa dalam bahasa Jawa, Belanda dan Melayu. Ayahmu juga mencipta lagu-lagu. Beberapa karangan ayahmu juga dirampas pemerintah colonial. Kamu mengarang seperti Ayahmu, Bung. Dan karanganmu dirampas pemerintahmu sendiri! Tragis! 

Kesan muram setiap kali ingatanmu menghantarkanmu kepada Ayahmu, maka kenangan akan Ibumu mengambil posisi yang berbeda. Bung mengenang Ibumu dengan sepenuh kasih. Nyaris tak ada ingatan yang cacat setiap kamu mengenang Ibu. Melulu indah, melulu haru.

“Menurut saya, ibu saya itu ibu yang ideal. Ini saya katakana bukan saja karena karena saya adalah anaknya. Tapi makan lama makin terkenang apa yang dilakukannya,” Bung kini terlempar ke pelukan Ibumu. Bung lalu berkisah tentang Ibu dalam keseharian Bung. Ibu Bung itu berumur 18 tahun saat menikah dengan Ayah Bung. Ayah Bung sendiri 32. Ia adalah murid Ayah Bung di HIS, sekolah dasar pemerintah Belanda.

Ibulah yang mengisahkan Bung dongeng serta fabel. Selain dongeng dan fabel itu, ia juga kisahkan kepada Bung tentang tokoh-tokoh yang berjasa dalam pergerakan nasional: para dokter, ahli hukum, dan insinyur sipil. Ia kisahkan kepadamu perihal kebesaran Imam Sujudi, Soetomo, Satiman Wirjosandojo, Soekarno, Sartono, Tjipto Mangoenkoesoemo. Meski begitu, Bung kadang mengingat Ibu lebih sebagai anak-anak ketimbang seorang ibu. Bung ingat betul Ibumu itu kerap kali tertidur sebelum kamu dengan buku masih terbuka di pangkuannya.

Ibumu itu, Bung, sebagaimana kau kenang, adalah Ibu yang selalu mengajarkan kerja keras. Didikannya itulah yang membuat Bung semakin menghormatinya. “Jangan jadi pegawai negeri, jadilah majikan atas dirimu sendiri. Jangan makan keringat orang lain, makanlah keringatmu sendiri. Dan itu dibuktikan dengan kerja!” Begitulah Ibumu suatu kali berpesan.

Kerja, ya, kerja! Ibumu selalu mengajarkan tentang pentingnya kerja beserta filosofinya. Bung masih terkenang, pada umur Bung belum genap 17, Bung bekerja sebagai penggembala kambing. Bung kerja mencari daun untuk makanan kambing. Ah, Bung selalu diselimuti rasa malu saat bertemu dengan murid-murid Gubernemen. Mereka mengejek dan menghina Bung. “Bu, saya malu menjadi penggembala mencari daun untuk kambing.” Begitu keluhmu suatu hari. Dan begini kata Ibumu, “Yang harus malu itu mereka, karena mereka takut untuk kerja. Kau kan kerja. Kau tidak boleh malu. Semua orang bekerja, itu adalah mulia. Yang tidak bekerja yang tidak punya kemuliaan!”

Ibumu itu adalah Ibu yang selalu mendukung apapun cita-citamu—tidak seperti Ayahmu yang terkesan meremehkan kemampuanmu. Pada periode ketika Ayah Bung kerap tak ada di rumah, Ibumulah yang bekerja menghidupi keluarga. Itu menjelang musim panas, 1940. Ia berusaha mencari uang dengan caranya sendiri. Lalu suatu hari Bung terkejut saat Ibu bertanya Bung ingin sekolah apa. Bung jawab juga pertanyaan itu: “Aku memutuskan teknik yang dibagi dalam tiga semester, masing-masing selama enam bulan… dan, ada hubungannya dengan teknik elektro, yaitu Sekolah Teknik Radio di Surabaya. dan Ibu Bung tanpa berfikir lagi menyanggupinya. Lalu Bung berangkat lah ke Surabaya menumpang Kereta Uap Semarang-Joana dengan membawa hadiah dari Ibu Bung: sebuah jam tangan, sepasang sepatu kulit Bata, dan dua cincin emas untuk digunakan dalam keadaan darurat. Umur Bung saat itu baru 16 tahun.

Tapi tiba-tiba wajah Bung menjadi mendung. Bung terlempar ke bulan Mei 1942. Bung teringat kematian Ibu yang memilukan. Ia meninggal terkena tuberculosis. “Aku tahu, bahwa ketika seorang meninggal karena tuberculosis, bakteri keluar dari mulut dan hidungnya. Orang berkata bahwa jika kita meletakkan sebuah telur goreng di wajahnya, sebuah lubang kecil pada telur itu akan menelan semua bakteri itu.” Begitu Bung mengenang. Tapi Bung dituntun keyakinan dalam hati, bahwa Ibumu tak akan membunuhmu dengan bakteri. Bung menghampiri Ibu, lalu merangkul tubuhnya yang dingin. Bung mencium tepat pada keningnya!

Bung dirundung sedih: Ibumu itu tak meninggalkan pesan apa-apa.
Ibumu Bung, meninggal 34 tahun. Ayah Bung pada umur 50-an. Keduanya sama-sama muda…

Malam semakin larut. Kita tenggelam dalam percakapan yang membawa Bung ke pedalaman sejarah, aku ke pedalaman relung batin Bung…



*******



Dini hari, pukul lima. Aku terbangun oleh langkah kaki. Bung melangkah pelan dari lantai dua. Sepagi ini Bung membuka pintu depan. Keluar halaman. Aku yang tertidur di depan televisi, lantas terbangun. Bangkt! Ke kamar mandi cuci muka.

Ah, aku tahu kebiasaan Bung bangun sepagi ini. Istri dan cucu-cucu Bung masih lelap tertidur. Kopi pagi belum tersedia. Matahari baru datang sebagai bias cahaya. Bung akan membakar sampah tak jauh dari pagar rumah.

Melihat aku di belakang Bung, Bung menanyakan apa aku semalam tidur nyenyak. Tentu saja nyenyak, aku jawab. lalu aku menyusul Bung, menghampiri ember sampah seng merah. Bung mengenakan sarung. Rokok kretek sudah bertengger di bibirmu, Bung. Sampah-sampah kertas, sobekan-sobekan kain, plastik-plastik dari dapur, dan sebagainya, dimasukkan ke dalam ember. Bersesak-sesakkanlah mereka di sana.

Bung membuka pagar, lalu melangkah dan membelok kea rah kiri. Sekitar seratus langkah kita tiba di tempat pembakaran sampah.

Di sana sudah ada tumpukan sampah lain. Ada sisa-sisa pembakaran di tempat lain. Bung menumpahkan sampah. Ah, Bung lupa membawa korek. Sementara tak ada api di sana. Untung aku bawa korek. Bung pun membakar sehelai Koran bekas. Menyala, lalu menyulutkannya ke benda lainnya. Api perlahan menyebar, perlahan membesar. Menghangatkan tubuh yang didinginkan angin pagi!

Bung menatap api itu seperti menatap sesuatu yang sebentar lagi pergi. Barangkali juga Bung membayangkan hal yang lain. Bung kemudian berkata, " Membakar sampah mengingatkan saya pada revolusi. Revolusi itu persis orang membakar sampah. Ia bukan sekadar membuang, melemparkan, dan menimbun semua yang kotor, juga tak berguna. Ia melapangkan. Membawa hawa bebas. "

Subuh begini Bung sudah berbicara revolusi. Apa yang Bung kenang terhadap revolusi?

Bung jelas sekali mengagumi revolusi. Bung bahkan ikut terlibat dengan cara sendiri untuk mendorong dan menuntaskan revolusi. Nah, Bung lalu menatapku. Menjelaskan dengan getaran di pita suara, perihal revolusi Indonesia yang Bung kagumi itu. Bagi Bung, Revolusi Indonesia 1945 adalah sesuatu yang absolute. Revolusi berada di atas seluruh konstruk sejarah.

Bagi Bung, revolusi itu ibarat ujian sekolah. Yang tidak lulus dalam revolusi nasional ini takkan lulus dalam ujian selanjutnya, setidak-tidaknya dia akan terus hidup berpura-pura, kehilangan intensitas hidup, kehilangan yang orang lain dapatkan: nilai pribadi dan nilai sosial.

Revolusi Indonesia itu pembebas puluhan juta orang. Revolusi Indonesia itu, jelas Bung, lebih unggul dari revolusi-revolusi mana pun di dunia ini. ah, Bung, apa ini pernyataan yang tak berlebihan? “Lebih hebat, ya, tanpa batasan waktu, lebih hebat dibandingkan (misalnya) Revolusi Industri. Sering dikatakan bahwa Revolusi Industri adalah revolusi pertama produksi di mana tenaga di mana tenaga manusia digantikan mesin. Masa kita hidup, kita dengar pula, adalah masa revolusi produksi yang kedua, di mana komputer menggantikan menggantikan otak manusia.” Sampai di sini Bung berhenti sejenak. Bung menyulut api ke rokok Bung yang baru, pengganti rokok yang sudah habis.

“Kendati demikian, meski pun manusia bisa tersesat tanpa informasi yang disampaikan komputer dan tanpa tujuan hidup yang telah didefinisikan oleh mesin, kita tetap harus bertahan pada keyakinan bahwa manusia lebih utama, dan bahwa ia bisa lebih tinggi dari kondisi subsisten…”

Kata-kata Bung tegas, meluncur lancar ke dalam otakku. Iya, Bung sudah menerangkan dengan gamblang peran Revolusi Indonesia bagi jutaan rakyat. “Hanya mereka yang dibutakan oleh kecakapan duniawi yang lebih terkesan pada revolusi-revolusi tadi. Betapa eloknya Revolusi Indonesia, Ibu segala kebijakan, Pradnya Paramitha… ”

Pradnya Paramitha, bukankah itu nama asli Ibu Bung? Nama asli yang baru Bung ketahui saat ia meninggal, dan tertera dengan jelas di batu nisan kayunya? Ah, berarti Bung hendak berkata, bahwa Ibu Bung adalah revolusi, Revolusi adalah Ibu Bung.

Kekaguman pada Revolusi dan keinginan untuk menuntaskannya membuat Bung harus berpolemik dengan banyak orang. Masalah pokoknya: ada perbenturan antara dua pendapat; revolusi sudah atau belum selesai. Yang lain-lain adalah masalah ikutan daripadanya. “Saya sendiri berpendapat, memang belum selesai. Buktinya belum pernah muncul sejarah revolusi Indonesia. Karena memang belum ada distansi dengannya. Belum merupakan kebulatan yang selesai. Maka para sejarawan takut. Malah kata revolusi nasional cenderung dinamai dan dibatasi sebagai perang kemerdekaan.”

Perbincangan soal revolusi berhenti saat sampah yang dibakar menjelma abu. Kita beranjak pergi dari sana. Aku membawa ember sampah. Bung berjalan di sampingku.

Setiba di rumah Bung, kopi pagi telah tersedia di meja bundar di beranda. Kita menikmati pagi bersama. Kepul asap rokok Bung berlomba dengan kepul tipis dari kopi dalam cangkir cokelatmu. Aku bertanya, apakah Bung pernah berusaha berhenti merokok. “Dari dulu saya merokok tak pernah terpisah dengan aktifitas menulis dan membaca. Waktu di Pulau Buru kami susah mendapatkan rokok, jadi kami tanam sendiri tembakau. Daunnya keras. Tapi kami tak peduli. Jika kertas rokok habis, kertas injil pun kami pakai. Hahaha…! Bung tertawa renyah. Ini pertama kali aku lihat Bung tertawa. Ada satu gigi depan Bung yang tanggal.

Dalam umurmu Bung yang semakin senja ini, ada sisa-sisa otot yang keras ditempa kerja yang yang juga keras. “Memang sebelum di Buru, aku jarang melakukan sport. Aku hanya merokok dan menulis. Tapi sejak di Buru, aku jadi rajin sport. Aku semakin menjaga kesehatan. Sampai sekarang, aku masih sering mengkonsumsi bawang putih mentah, aku kunyah agar tetap sehat!”

Tak lama kemudian, kopi tandas. Bung dan aku beranjak masuk, langsung menuju lantai dua, tempat ruang perpustakaan yang terhubung dengan kamar Bung berada. Setiba di sana, bung langsung membereskan Koran-koran bahan kliping. “Saya sekarang ini tidak lagi menulis. Pengalaman Buru melepaskan otak saya dari yang dulu-dulu. Saya tak mampu mengingat lagi. Bahkan tulisan saya sendiri.Saya juga terkena writersblock. Setiap pengarang bisa kena writersblock. Pekerjaan kliping bisa meringankan beban saya. Sekaligus kesempatan untuk mempelajari dan mengenal tanah air sendiri. “

Aku turut membantu. Membersihkan mesin ketik Bung yang sedikit berdebu. “Dulu saya seorang tukang ketik. Tapi sekarang tiap baris ada yang salah ketik. Mungkin karena kaca mata saya. Saya segan memeriksakan mata saya.” Bung menjelaskan sambil teruskan membereskan Koran-koran.

Barangkali Bung menebak pertanyaan dalam benak saya soal menulis, mengkliping, dan mengetik ini, Bung lalu menyambung, “dulu saya menempuh sekolah selama sepuluh tahun, yang seharusnya tujuh tahun. Ayah saya malu sekali. Jadi dalam mencurahkan perasaan saya itu, tak berani ngomong sama orang, jadi saya tulis.”

Oh, jadi memang sejarah masa kecil Bung adalah sejarah keminderan. “Minder saya itu lama sampai saya berumur 28. Pada umur itu saya pergi ke Belanda, dan saya bertemu dengan gadis Belanda dan menjadi pacar saya. Dengan memiliki pacar orang Belanda, minder saya jadi hilang. Hahaha!” Bung tertawa keras. Aku ikut tertawa.

Mataku jatuh pada selembar kertas, yang rupanya adalah fax dari pemerintah Indonesia.Fax itu berisi keputusan Jaksa Agung RI yang melarang beredarnya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, terbitan Lentera. Pertimbangannya: isinya dapat menganggu ketertiban umum.

Aku penasaran Bung, buku-buku Bung yang dilarang itu disimpan di mana? Bung tiba-tiba diam. Lalu telunjuk tangan kanan Bung goyangkan kiri-kanan. “Itu tak boleh disebut. Rahasia. Tidak boleh disebut!”
Maafkan Bung, pertanyaanku yan terkesan lancang itu. Bung menjelaskan lagi,  soal penyitaan ini sudah biasa buat bung. Polisi biasanya datang. ”Ada penyitaan itu biasa. Kalau tak dilarang, dianggap merehabilitasi nama saya.”

Ruangan perpustakaan sudah rapih. Di balkon atas, Bung mengajak saya. Di bawah, terdengar suara-suara anak kecil. Ah, cucu-cucu Bung sudah bangun rupanya. Lalu ada beberapa orang yang datang, Bung bilang itu beberapa anak Bung. Lalu Bung pun berkisah tentang mereka: “anak-anak saya sangat menderita sejak saya di Pulau Buru. Mereka dihina dan diejek. Anak termuda di SMA dikeroyok temannya karena anak tapol. Ia melawan, datang polisi. Yang ditangkap justru anak saya. Dan dikenakan wajib lapor. Anak saya yang pintar, waktu akan ujian lulus, ia tidak dibiarkan ikut.”

Getar suara Bung menusuk udara di telingaku. Aku merasakan benar perasaan dan penderitaan Bung. “Saya menyesal tak bisa mendidik anak-anak saya. Mereka trauma. Tak punya apa-apa. Karena semua harta disita. Mereka diejek sebagai anak tapol.”

Persoalan pengasingan di Pulau Buru beserta segala dampak yang mengikutinya berkelindan di kepalamu pagi itu, Bung. Kamu meradang, kamu marah, kamu tak berdaya. Kamu bilang, dalam keadaan sadar kamu sudah berusaha menertawakan semuanya. Tapi tak urung juga trauma hadir bagai hantu merasuk ke dalam mimpi-mimpimu. Trauma penahanan. Kamu bermimpi tentang perampasan, kamu bermimpi tentang penipuan, tentang penganiayaan, diuber-uber…

Padahal kamu sudah menganggap sudah melewati masa takutmu selama melewati rezim Orde Baru. Kamu juga sudah siap mati pada umur 24 saat satu peristiwa mistik mendatangimu di Tahanan Bukit Duri…

“Asal perasaan aman. Tak aman, saya di rumah saja. Perasaan aman penting bagi kehidupan orang. Tak aman jadi beban batin. Teman-teman yang menyayangi saya, diharapkan jangan keluar sendirian. Harus ada yang mengawal. Biar tak hilang di jalanan. Sebetulnya saya ini seorang penyendiri, introvert. Pergaulan tak mutlak saya perlukan. Karena itu, berkali-kali dalam tahanan, tak ada persoalan bagi saya. Karena saya ini seorang penyendiri.”

Kau hidup dalam terror mental yang disebarkan rezim. Tapi kau kau tetap melawan, Bung. Kamu punya Negaramu sendiri. Sebagaimana kau katakan, “Negara saya adalah sekeliling pagar rumah saya. Itulah Negara saya.”

Di negaramu itu, kau hidup bersama rakyat yang kau sayangi: istri, anak-anak dan cucu-cucu yang lucu…


******



Pada mulanya adalah Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, disingkat Baperki. Ia adalah organisasi yang didirikan di Jakarta Maret 1954. Pada saat Baperki lahir, dunia pendidikan belum betul-betul terjangkau seluruh kalangan, khususnya rakyat bawah. Maka dengan melihat tantangan berupa kesenjangan ini, Siauw Giok Tjhan, wartawan dan aktivis politik, ketua Baperki, memprakarsai pengumpulan dana dari kalangan Pribumi dan keturunan. Empat tahun kemudian, yakni pada 1958, berdirilah Universitas Baperki. 

Beberapa lama kemudian, Universitas Baperki berubah menjadi Universitas Res Publica. Orang-orang menyebutnya: Ureca. Nama ini berasal dari pidato Bung Karno yang berarti: Untuk Kepentingan Umum.

Ureca terus berkibar, memberikan peluang pendidikan untuk seluruh kalangan. Ureca-lah yang kemudian dikenal sebagai satu-satunya Universitas swasta yang pertama-tama memiliki seorang Rektor perempuan.

Kemudian peristiwa G30S 1965 pecah. Universitas Res Publica ini kena dampaknya. Karena dianggap menjadi kendaraan kaum komunis, Res Publica dibubarkan. Baperki,organisasi yang mendirikannya dari uang rakyat, juga dibubarkan. Itu pada tahun 1966. Res Publica lalu berganti Trisakti. Universitas Trisakti. Menghilangnya nama Res Publica seturut dengan terampasnya hak dan kebebasan seorang pengarang besar yang pernah mengajar di Universitas rakyat ini. Pengarang itu adalah kamu, Bung. Pramoedya Ananta Toer. Kamu pernah mengajar sejarah di sana.

Di mana Bung saat peristiwa itu? Kamu berada di rumah, mendengarkan radio. Kamu mendapat berita dari radio tentang adanya gerakan Untung. Kemudian berita tentang susunan nama Dewan Revolusi. Sebelum itu pengumuman naik pangkat para prajurit yang ikut dalam gerakan Untung dan penurunan pangkat bagi mereka yang jadi perwira di atas letkol. Sudah pada waktu itu kamu terheran-heran, kok belum-belum sudah mengurusi pangkat? Ini gerakan apa, oleh siapa?

Apa pendapatmu Bung terhadap berita Untung itu? “Pertama: sejak semula saya sependapat bahwa gerakan Untung, yang kemudian dinamai G-30S/PKI, adalah gerakan dalam tubuh angkatan darat sendiri. Pendapat itu tetap bertahan sampai sekarang.”

Peristiwa itulah yang mengantarkanmu pada penderitaan berpanjangan. Keadaan mencekam. Telah banyak orang-orang dekatmu menyarankan kau bersembunyi mencari tempat aman. Tapi kau menolak. “Ini rumah saya. Saya harus pergi ke mana?” Iya, saat itu kamu hanya berdua bersama adikmu. Istrimu sedang istirahat di rumah orang-tuanya, setelah melahirkan anakmu yang kelima—lahir laki-laki, anak yang kau tunggu-tunggu setelah empat yang sebelumnya semua perempuan.

Kamu cerita, hubungan terakhirmu dengan Universitas Res Publica saat seorang pegawai tatausaha Universitas itu datang ke rumahmu menyerahkan honor, dan mengatakan Universitas ditutup karena keadaan tidak aman. Ia menyerahkan honor lipat dari biasanya. Beberapa hari kemudian datang pegawai dari pabrik pensil, juga menyerahkan honor, juga lipat dari biasanya, karena pabrik terpaksa ditutup, keadaan gawat.

Kamu digelandang. Bersama banyak orang, kamu dibawa ke suatu tempat. Kamu tak sadar, kamu berdarah. Sebuah hantaman popor senjata mengenai telingamu. Kamu minta barang-barang di rumahmu diamankan. Tapi tidak: perpustakaanmu diobrak-abrik. Naskah-naskahmu dibakar. Termasuk cerpen-cerpen Bung Karno yang tengah kau sunting. Dan honor yang kau terima dari Universitas dan pabrik pensil pada gilirannya diambil dan tak dikembalikan saat kamu ditangkap, atas alasan agar tak dicuri oleh sesama tawanan.

Dan perampasan demi perampasan mulai berlaku padamu. Rumah fisikmu dihancurkan. Rumah Indonesiamu tumbang menjadi puing-puing…

Kamu lalu mengembara dari penjara ke penjara. Empat tahun kamu meringkuk di tahanan Salemba, Jakarta. Sebulan di kamp penampungan Nusa Kambangan. Maka pada 16 Agustus 1969, kamu pun diberangkatkan ke Pulau Buru. Tempatmu bakal ditahan 1.500 kilometer ke arah timur.

Di atas kapal yang membawamu, kamu teringat Sutan Sjahrir. Ingatan itu kamu tulis di atas kapal yang terus oleng oleh angin Agustus. Tokoh ini tak pernah dikisahkan oleh ibumu. Kamu mengenal Sjahrir saat kamu membaca surat-surat tokoh intelektual Indonesia itu. Kamu baca surat itu di penjara Cipinang, penjara yang sama saat Sjahrir menulis suratnya. Sjahrir berumur 27 tahun saat dibuang, dan kamu berusia 43 ketika membawa surat-suratnya.

Ingatanmu atas laki-laki yang sohor dipanggil Bung Kecil itu muncul karena kamu dan dia terpaut oleh nasib yang sama: sama-sama dibuang, sama-sama berlayar, sama-sama terenggut haknya, sama-sama menulis surat kepada keluarga kalian. Cuma di waktu yang berbeda. Hanya saja, Bung, kamu sendiri skeptis dengan peran Sjahrir dalam gerakan perlawanan Indonesia menentang fasisme serta dalam revolusi 1945.

Kamu hanya membawa dua pasang pakaian—sebagaimana ketentuan yang berlaku. Nomor tahananmu 541. Kamu menempati kamar seluas 2,5X2,75 m. Tingginya 2,5 m. berlantai tanah. Hartamu adalah sebuah peti yang nantinya bakal berisi naskah-naskahmu beserta pakaianmu. Sepatu, asbak, dan sebagainya tergeletak di sudut-sudut kamarmu.

Di Buru, kamu harus bekerja keras di bawah pengawasan ketat para tentara penjaga kamp, perwira pengawas, komandan, dan lain-lain. Mereka kau kenal kejam. Meski begitu, beberapa dari mereka adalah para pesolek. Kamu mencatat, ada Komandan Tefaat, Letkol A.S. Rangkuti yang katanya pernah main dalam film. Ada Letnan Eddy Tuswara (bekas perwira Cakrabirawa) yang suka bercelana renang, memamerkan bentuk pahanya yang bagus. Ada juga Wing Wiryawan (panglima Pattimura) yang baru menjalani operasi di Nederland, jadi langsing, dua puluh kilo gemuk diambil.

Kamu tinggal bersama para tapol yang lain. Pukul lima kamu dan mereka bangun. Kamu tahu bahwa dalam kamp kau akan bekerja keras, kau mulai berlatih sport. Sport membuatmu percaya diri, ceria, meski pun tak memberimu pengharapan. Benjolan hernia yang kau derita juga sedikit teratasi oleh sport. “Di penjara Glodok, seorang penjahat perwira Jepang masih melakukan jogging beberapa menit sebelum naik tiang gantungan. Lupa aku tahunnya, mungkin 1947.” Kamu menceritakan kasus itu karena sadar, modal hidupmu tinggal badanmu yang sebatang itu.

Waktu demi waktu bergulir. Kamu dan para tapol di pulau Buru harus bekerja secara paksa. Sialnya, hasil-hasil kerjamu dan yang lainnya  kebanyakan diambil oleh komandan. Sialnya lagi, kalian masih harus membangun barak-barak sendiri, membuat jalan-jalan, membuka persawahan. Semua itu kalian lakukan di tengah-tengah penduduk pulau yang masih kanibal, tanahnya tandus dan gersang, penuh dengan binatang-binatang buas.

Sepuluh tahun kamu dan tapol lainnya diisolasi di Buru, kalian telah mencetak sawah dan ladang seluas 3.532,588,1 hektar, dan dibangun jalan lingkungan dan arteri sepanjang 175 kilometer, berikut bendungan dan jaringan irigasi. Itu semua kalian dilakukan tanpa bantuan pembiayaan dari luar. belum terhitung barak-barak, masjid, gereja, sekolah, pasar, dermaga, dan sebagainya.

Kamu mencatat dan terus mencatat. Kamu catat pekerjaan apa yang pertama-tama dilakukan tapol di Buru. Kamu catat siapa-siapa temanmu yang meninggal dalam kerja, terkena penyakit, atau disiksa. Kamu terus mengabadikan. Mengabadikan mereka dengan menulis. Menulis untuk yang dilupakan dan terlupakan…

Kamu lakukan itu di tengah-tengah pendengaranmu yang semakin buruk. Kamu tuli. Pendengaranmu dirampas popor senjata tentara. Tapi kamu tak jatuh ke dalam lembah keputusasaan. Kamu terus menulis dan menulis. Perlahan-lahan kau mulai merancang naskah-naskah untuk dituliskan. Kamu selalu punya pengharapan, Bung. Rumah apa lagi yang hendak kau bangun dengan tulisanmu itu? Tidak kah pengalaman menyakitkan di mana buku-bukumu dirampas, disita, dibakar, sampai membuat kau dipenjara membuatmu jera menulis? Tugas nasional, tugas nasional. Masihkah alasan itu yang kau pakai? Sementara kau tahu, rezim di bawah mana kau menulis kini tak punya kesadaran nasional sebagaimana kau yakini. Mereka telah menjual bangsanya ke pihak asing.

Kau mengagumi Soekarno. Kau berdiri di sisinya, membela keyakinan-keyakinannya, meski pada beberapa hal kecil kamu berbeda pendapat dengannya. Kamu sering kali meluruskan anggapan orang-orang yang mengatakan bahwa Bung juga dipenjara di bawah rezim Bung Karno.”Bukan Bung Karno yang memenjarakan saya. Tapi Angkatan Darat.”

Kamu menjelaskan, “Bung Karno itu orang besar. Satu orang itu sudah bisa menyatukan Indonesia secara politik. secara administrasi, sudah dilakukan belanda. Bung Karno meninggal sebagai Tapol oleh seorang bekas sersan KNIL: Soeharto. Soeharto itu tak punya saham apa-apa dalam gerakan kemerdekaan. Bahkan sebaliknya. Karena KNIL itu adalah tentara bayaran untuk menaklukkan rakyat Indonesia.”

Bung Karno meninggal. Kamu menerima berita kematian Bung Karno itu saat kamu berada di Pulau Buru, lewat Komandan Unit Kapten Daeng Masiga. Kapten itu adalah bekas ajudan Bung Karno. Kamu mengenang, saat berita kematian itu tiba, diadakanlah acara mengenang Bung Karno. Saat pidato dibacakan banyak yang menangis. Kamu Bung, juga menangis.

Di Pulau Buru, mulailah rencanamu menyelesaikan naskah-naskah. Ibarat usia kehamilan, kepalamu sudah mengandung ‘anak-anak’ ruhani yang mendekati masa lahir. Sebetulnya, sudah lama kepala kau itu mengandung. Namun karena kondisi politik yang berubah, rahim yang mengandung ‘anak-anak’ ruhanimu terganggu.

Berawal dari Universitas Res Publica. Di sana kau mengajar  sejarah. Senantiasa segar di ingatanmu, kamu menolak saat diminta mengajar sejarah di sana. “Bagaimana bisa saya mengajar, kalau sekolah saja tidak tamat?” Lalu kau bikin metode mengajar tersendiri. Kamu wajibkan mahasiswa yang kau ajar untuk membaca Koran selama satu tahun. Mereka kau wajibkan membuat ringkasan. Dari sanalah bahan-bahanmu bersumber. Hanya mungkin ‘anak-anak’mu itu harus lahir bukan seperti yang direncanakan. Dari rencana penulisan ilmiah, kini beralih ke roman. Itu karena bahan-bahan tadi sudah lenyap.

Cerita-cerita itu memang tak langsung kau tulis. Garis besarnya kau gulirkan kepada teman-temanmu. Bung, bagaimana awalnya kau ceritakan kisahmu itu? “Waktu itu,” kau menjelaskan, “ ada pembunuhan terhadap lebih dari sebelas Tapol. Itu membuat moril tapol yang lain merosot. Penganiayaan juga semakin keras. Maka untuk menaikkan kembali moril mereka, saya ceritaka Nyai Ontosoroh kepada mereka. “Lihat itu Nyai Ontosoroh, dia perempuan, sendirian melawan kekuasaan colonial. Seorang diri. Kalian bagaimana, semua laki-laki? Dan saya bersyukur, usaha saya berhasil!”

Dan Bung melanjutkan, Bung ceritakan kepada mereka pada malam hari setelah kerja. Pada pagi hari, cerita itu diceritakan kembali oleh teman-teman Bung ke tapol lainnya seusai apel pagi hari. Memang di tengah-tengah pengasingan juga ada seorang dalang yang pintar bercerita, jadi ia yang menyebarkan cerita Bung.

Dan Bung kejatuhan durian runtuh yang membuat Bung semakin bebas menulis. Pada 1973 Bung dibebaskan untuk menulis. Ini tak lepas dari peran dunia internasional yang terus mendesak pemerintah Indonesia memberikan kebebasan kepadamu untuk menulis. Beberapa orang bahkan mulai mengumpulkan tanda tangan untuk mendukung rencana itu. Di Eropa, seorang filsuf dan sastrawan bernama Jean Paul Sastre menghadiahkan Bung sebuahmesin ketik. Sayangnya, mesin ketik itu tak pernah sampai ke tanganmu. Ah, rezim Orba tak pernah berhenti merampas apapun yang seharusnya menjadi hakmu.

Meski begitu, naskah-naskah yang Bung tulis masih tetap rawan dirampas rezim. Maka setiap kali Bung menulis, Bung senantiasa menyalinnya dalam beberapa salinan. “Di antaranya saya kirim ke luar kamp, dan diserahkan kepada Romo Roovink. Maka Romo Roovink-lah yang kemudian menyelamatkan naskah-naskah saya.”

Mulailah Bung menulis roman tentang satu periode yang dimulai pada tahun 1908. Bung menulis periode itu, karena menurut Bung, pada masa itu lahirlah kebijakan colonial bernama etische politic, Politik Etis. “Itu yang banyak memutar kenyataan-kenyataan dalam sejarah gerakan kemerdekaan.”

Maka pada musim panas tahun 1980 terbitlah bagian pertama dari Tetralogi: Bumi Manusia. Kemudian berturut-turut sisanya terbit pada tahun 1983 (Anak Semua Bangsa), 1985 (Jejak Langkah) dan 1988 (Rumah Kaca). Tentu dengan terbitnya empat roman dalam kesatuan tetralogi Buru ini membuat rezim Soeharto gerah. Satu persatu romanmu ditarik dari peredaran. Dan setahun setelah bagian terakhir roman itu terbit, yakin pada 1989, dua orang mahasiswa di Jogjakarta yang menjual buku-bukumu ditahan dan dihukum delapan tahun penjara.

Penerbitan empat roman itu dilakukan tak lama setelah kau dibebaskan pada 21 Desember1979. Bung tentu selalu ingat, pembebasan itu tidak sepenuh-penuhnya bebas. Bung masih harus melapor setiap minggu kepada kepolisian resort setempat.  

Terbitnya roman-roman Bung semakin membuat namamu membumbung tinggi. Buku-bukumu diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Di sudut-sudut bumi orang membaca ‘anak-anak’ ruhanimu. Tak terhitung banyaknya artikel, buku-buku, Koran-koran, majalah-majalah yang menyediakan ruang untuk membahas ‘anak-anak’mu itu. Mereka telah mencerahkan banyak orang, menginspirasi anak-anak muda.


*******


Sebentar lagi senja turun. Aku harus bersiap-siap meninggalkan kediamanmu, Bung, Negara kecilmu ini. Aku harus melanjutkan perjalananku. Aku hampiri Bung yang tengah berada di ruang perpustakaan Bung. Aku membawa di tangan kananku sebuah naskah kecil.

“Oiya, kamu akan pulang sore ini. Langsung balik ke Makassar?”

“Belum, Bung Pram. Saya akan ke Denpasar dulu! Saya akan bertemu seseorang di sana!”

Lalu aku ulurkan naskah di tanganku ke hadapan Bung. “Ini naskah kecil yang aku tulis bersama seseorang Bung. Beberapa bulan lamanya kami membaca dan mengulas Tetralogi Buru yang bung tulis. Keempat roman itu kami baca lalu kami diskusikan bab demi bab, baris demi baris. Kami saling berbagi kesan pembacaan kami masing-masing. Itu kadang kami lakukan di tengah malam, atau dini hari. Kami namai aktifitas kami sebagai Mengaji Tetralogi.”
“Hmm, Mengaji Tetralogi. Terima kasih banyak sudah membaca karya saya ya. Itu sudah berarti kalian sudah ikut membuat saya merasa terhormat. Memang saya berharap, pembaca Indonesia yang membaca karya saya kemudian merasa menjadi berani, merasa lebih kuat, itu saya menganggap tulisan saya berhasil. Kamu merasa seperti itu setelah membaca karya saya?” Aku memberi Bung anggukan yang mantap.

“Bung ada yang hendak disampaikan terkait roman tetralogi yang Bung tulis?”

“Tak ada. Aku ini setiap kali selesai menulis, maka aku merasa tugasku sudah selesai. Jadi kalau kau bertanya detail yang saya tulis, saya tak bisa menjawab. Karena saya tak pernah membaca ulang karya saya. Hahaha!”

Melihat kau tertawa, aku juga ikut tertawa senang.

Lalu kita berjalan beriringan ke lantai bawah. Tasku sudah ada di sana. aku hampir lupa memberimu sesuatu yang lain: kretek. Aku membawakanmu kretek, Bung. Kretek kesukaanmu. Bung tertawa kecil menerima hadih kecil itu.

Lalu kita pun foto bersama. Salah seorang anak Bung memotret. Cucu-cucu Bung ikut serta. Selepas itu, aku pamit. Bung melambaikan tangan, Ibu Maemunah melambaikan tangan, anak dan cucu-cucu Bung semua melambaikan tangan.

Di luar pagar saat menunggu taxi, aku dengar kamu bernyanyi di Negara kecilmu itu, ditingkahi tawa cucu dalam gendonganmu. “Daun goyang-goyang ditiup angin. Daun goyang-goyang ditiup angin…”



*Ini catatan lama yang saya tulis semasa masih di Makassar, dan aktif di komunitas Mengaji Pram.

*****


*Dedy Ahmad Hermansyah. Pustakawan di Komunitas Teman Baca, Kota Mataram, NTB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar