![]() |
| Logo ini didesain oleh kawan Cepot Doank. Terima kasih om. |
Teman
Baca sebetulnya masih berupa benih yang baru belajar tumbuh. Benih yang belum
teruji benar menghadapi cuaca di masa datang. Akan tetapi, jika diizinkan
sedikit jumawa, Teman Baca adalah benih yang disiram dengan air dan pupuk yang
kualitasnya baik. Para pegiatnya penuh gairah dan senantiasa optimistis: Teman
Baca akan dapat menjadi benih yang subur. Menjadi pohon penaung!
Teman
Baca adalah komunitas literasi yang beraktifitas di kota Mataram, NTB. Jauh
sebelum nama itu ada, segelintir penggiatnya sesungguhnya sudah menggeluti
pekerjaan-pekerjaan yang bertalian dengan aktifitas membaca dan menulis. Ada
yang pernah merantau dan di sana dia bergerak dalam dunia penerbitan dan
perpustakaan. Ada yang latar aktivisme semasa mahasiswa menjadi pegiat pers
mahasiswa. Ada yang pegila baca yang akut. Selain itu, ada juga yang masih
sangat muda, baru menjalani semester-semeter awal di kampus di Mataram, yang
baru belajar mencintai buku-buku, tapi sangat antusias dengan kerja-kerja
literasi yang digiatkan Teman Baca.
Sebelum
nama Teman Baca ditemukan, sebagian pegiatnya sudah terikat dalam komunitas
yang cair dan biasa mengerjakan kerja yang sedikit banyak bersinggungan dengan
literasi. Barangkali ada setahun—katakanlah mulai pada 2016 awal—pegiat-pegiat
ini sering mendapat order pekerjaan menerbitkan buku program sebuah lembaga swadaya,
pengeditan buku, mengorganisir diskusi literasi, sampai dengan berkali-kali
menjadi panitia seminar sejarah dan kebudayaan.
Persentuhan
yang cukup intens dalam kerja bersama itu akhirnya membuat beberapa pegiat
berpikir untuk membuat komunitas tersendiri yang bergerak dalam bidang
literasi—lebih sempitnya lagi dalam dunia baca tulis. Gagasan mulai
dibincangkan. Aktifitas mulai dirancang. Tenaga dan pikiran mulai dikerahkan!
![]() |
| Suasana ngelapak di taman Udayana. Kali ini kami ngelapak bareng BIAP, komunitas literasi yang biasa menggelar lapak saban sore dari Senin sampai Sabtu di taman Sangkareang. |
Akhirnya, pada kuartal ketiga tahun 2016, tepatnya pada Minggu 23 Oktober, pegiatnya memutuskan untuk menggelar lapak baca di Taman Udayana Kota Mataram. Dan baru-baru ini pegiat Teman Baca berpikir untuk menjadikan momen ini menjadi titimangsa berdirinya Teman Baca. Di penanggalan inilah Teman Baca akan merayakan ulang tahunnya di tahun-tahun mendatang.
Mengapa
lapak baca? Dan mengapa di Taman Udayana?
Ketika
gagasan mulai digelar dan didiskusikan, pegiat Teman Baca menemukan beberapa
kesimpulan: di Kota Mataram, belum banyak perpustakaan yang menjadi ruang bagi
pecinta buku untuk datang membaca. Memang ada fasilitas perpustakaan di
beberapa taman kota dan fasilitas publik lainnya yang disedikan pemerintah,
tapi tidak terawat dan hampit tak pernah dikunjungi warga. Dan, tentu saja, itu
semakin diperparah dengan kondisi umum di mana kecintaan warga pada buku atau
membaca buku masih kurang.
Dari
sana kemudian pegiat Teman Baca mengambil keputusan: menggelar lapak baca di
area publik. Kebetulan ada salah satu pegiatnya yang memiliki cukup banyak buku
untuk dilapak—sekitar 300an buku. Taman Kota Udayana dipilih karena di sana
menjadi pilihan alternatif masyarakat untuk berekreasi. Dan kebetulan lagi
setiap hari Minggu, dari pukul 07.00—09.00 wita, sepanjang taman kota itu
aksesnya untuk kendaraan umum ditutup.
Tiga
pegiat Teman Baca akhirnya bangun pagi sekali—hal yang jarang mereka
lakukan—dan mengangkut buku-buku serta spanduk bekas sebagai alas buku. Sejak
itu, lapak baca Teman Baca rutin menggelar lapak baca setiap hari Minggu di
Taman Kota Udayana. Awalnya hanya dikunjungi sedikit orang dengan buku-buku
yang belum beragam, namun lamat-lamat seiring waktu keberadaan lapak baca di
taman kota Udayana mulai tersebar, dan mulai banyak orang dan komunitas yang
datang berkunjung untuk membaca buku sekaligus bersantai di akhir pekan.
![]() |
| Teman Baca bersama BIAP diwawancarai iNEWS TV terkait aktifitas perpustakaan jalan kami. |
Sembari
terus menggelar lapak, kami mencari nama yang bagus untuk komunitas kami.
Melalui diskusi yang panjang, kami pun menamai komunitas kami: Teman Baca,
semacam permainan frase dari ‘TAMAN BACA’. Tagline-nya adalah sumbangan ide
dari salah satu kawan Teman Baca via media social Facebook: Banyak Teman Banyak
Baca.
Sejak
saat itu, kami dengan mantap membawa dan memperkenalkan nama Teman Baca kepada
pengunjung taman kota.
Mimpi-Mimpi Mulai Menumbuhkan Kaki
Aktifitas
lapak buku di taman kota menjadi awal diwujudkan mimpi-mimpi. Pegiat Teman Baca
berpikir, kampanye literasi harus dimajukan lagi. Kami merasa pegiat literasi
di kota Mataram secara khusus—pulau Lompok pada umumnya—sebetulnya ada, tapi
sayangnya tidak atau belum terikat pada jaring yang memungkinkan mereka
berkomunikasi intens dan berdiskusi atau pun menjalin kerja bersama dalam
tautan bernama literasi. Memang ada persentuhan, tetapi masih bersifat
emosional dan pribadi.
![]() |
| Festival lliterasi yang diinisiasi oleh berbagai komunitas literasi di kota Mataram, termasuk Teman Baca. |
Akhirnya,
pegiat Teman Baca mencoba melempar gagasan kepada komunitas lain untuk membuat
satu acara yang bisa menjadi ruang bersama komunitas yang menggerakkan literasi
di kota Mataram. Ternyata Teman Baca tidak sendiri dalam berpikir demikian.
Komunitas lain juga merasakan kebutuhan serupa.
Akhirnya,
Teman Baca mencoba memfasilitasi dua komunitas lain—BIAP (Buku Ini Aku Pinjam,
komunitas serupa Teman Baca dan usianya sedikit lebih tua dari Teman Baca, dan
biasa menggelar lapak di taman kota Sangkareang Mataram) dan KCB (Kelompok
Cinta Baca Kota Mataram)—untuk mendiskusikan hal ini.
Kami
berkumpul di lapak baca Teman Baca pada awal tahun ini. Singkat cerita, kami
sepakat membuat pesta literasi di awal Februari. Dan kegiatan itu, menurut
beberapa orang, sukses dan berhasil membuat ikatan yang sangat erat antar
pegiat komunitas yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Nama festival
literasi itu: PESTA BATUR.
Selepas
itu, Teman Baca mulai merambah mimpi-mimpi lain. Pegiatnya berpikir, barangkali
Teman Baca sudah harus membuat CV, menggerakkan lini penerbitan, menggiatkan
kelas menulis dan membaca, dan sebagainya. Mimpi-mimpi itu sebagian besar masih
belum terwujud, tapi pegiatnya masih optimistis itu semua akan terwujud. Yang
sementara ini sudah terwujud adalah membuat lini penerbitan. Teman Baca, pada
akhir Februari, berhasil menerbitkan buku perdana, “Pawon, Bumbu Sehat untuk
Berpikir”. Dia adalah kumpulan esei seorang penulis perempuan asal Lombok, Maia
Rahmayati.
![]() |
| Buku terbitan perdana Teman Baca, "Pawon Bumbu Sehat untuk Berpikir". Ditulis oleh Maia R, penulis perempuan yang menulis berbagai kolom di media massa lokal. |
Dengan
terwujudnya beberapa mimpi Teman Baca—membuat perpustakaan jalanan dalam rupa
lapak baca di taman kota, membuat festival literasi antar komunitas,
menerbitkan buku—kami menyadari mimpi-mimpi sudah menumbuhkan kakinya sendiri.
Mungkin kaki itu masih belia, tapi kami yakin seiring waktu ia akan menjadi
batang kaki yang kukuh dan kuat berjalan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar