Nurhady Sirimorok
![]() |
| Sumber foto: http://id.wikihow.com/Menulis-dengan-Kata-Kata-Sendiri |
Membaca tulisan-tulisan berat itu seperti latihan beban buat atlit basket. Setelah itu kau merasa tubuhmu jauh lebih ringan dan kau bisa melompat tinggi. Saya main basket serius selama tujuh tahun. Kira-kira selama itulah pelatihan yang saya butuhkan untuk mencapai tingkat yang bisa menempatkan saya ke dalam tim provinsi. Tapi latihan lama dan intensif tidak cukup. Saya masih harus latihan angkat beban. Saya ingat menjelang turnamen Pra-PON, latihan menjadi lebih lama dan berat sejak beberapa bulan sebelumnya. Kami lari lebih jauh, melompat lebih banyak, sprint lebih sering. Push up, veritcal jump, squat jump dan lainnya diperintahkan dengan porsi lebih montok. Semua latihan itu, latihan fisik, selalu kami jalani mengiringi latihan teknik dan strategi bermain. Tapi tiga jenis latihan itu belum cukup untuk level turnamen yang akan kami ikuti. Kami juga harus latihan angkat beban.
Di fasilitas gym stadion Mattoangin,
bersama atlit dari cabang olah raga lain, kami mulai mengangkat besi dengan
macam-macam gaya. Kami bermain dengan dumbell, benchpress, squat lift, dan alat
besi lainnya. Tapi jangan bayangkan kami melakukannya dengan pelan untuk
membangun otot yang indah. Itu bukan untuk kami. Semua set angkatan harus
dilakukan dengan kecepatan tinggi supaya gerakan kami menjadi eksplosif: kuat
dan cepat.
Cuma butuh satu dua bulan, beberapa dari
kami sudah bisa menghempas bola ke dalam keranjang--ya, menghempas dari atas.
Saya salah satu di antaranya. Semua keringat, teriakan dan makian yang terperas
keluar oleh tempaan alat-alat besi itu mendapatkan bayarannya. Ketika di
lapangan kawan setim berhasil mencuri bola lalu meloloskan operannya kepada
saya yang tak terkejar lawan, ketika saya melayang mendekati ring, sepersekian
detik sebelum penonton seolah akan meruntuhkan tribun, itulah keindahan.
Latihan menulis tidak jauh beda. Dengan
menulis terus menerus sampai tujuh tahun, belum tentu tulisan kita bisa menjadi
eksplosif, bertenaga ledak. Kita perlu bisa melakukan pengamatan dengan tajam,
lalu menggenggam fakta yang selalu berantakan itu di kepala, kemudian
menekuk-nekuknya, membentuknya jadi sesuatu yang bermaknanya. Tapi itu belum
cukup, kita pun harus bisa menempa deretan makna baru itu menjadi
kalimat-kalimat jernih, agar sebisa mungkin pembaca tidak perlu
berkerut-kening, garuk-garuk kepala, sambil linu betis mencoba memahami apa
yang kita tulis. Atau sebaliknya, pembaca mungkin menyisir beberapa baris lalu
segera terserang jemu dan teringat kerjaan yang sudah lama mereka lupakan.
Supaya itu tidak terjadi, kita butuh banyak
rujukan kerangka berpikir dan informasi dari sebanyak mungkin cara pandang yang
dapat kita jangkau, atau yang dapat kita cerap. Kita butuh sebanyak mungkin
kosakata, frasa, strategi pengungkapan, dan piranti bahasa lainnya.
Semua kemampuan itu tidak datang hanya
dengan membaca tulisan-tulisan ringan nan indah. Kita juga perlu membaca
bahan-bahan berat, mulai dari teori-teori yang disusun dengan macam-macam
kerangka berpikir, hasil penelitian dan dokumen-dokumen kelabu dengan bahasa menjemukan
atau yang ditulis serampangan, deretan monoton statistik, naskah-naskah tua
berbahasa asing, catatan tulisan tangan yang membacanya bikin tengkuk tegang,
sampai tulisan ejaan alay dengan huruf ompong.
Semua harus kita lewati. Melakukannya
memang berat, tidak enak. Kalau kau harus berkeringat, teriak atau mengumpat,
lakukanlah. Sebab tidak ada jalan lain. *****
Nurhady Sirimorok. Penulis, peneliti, dan penerjemah. Perintis Komunitas Ininnawa Makassar. Tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan.


keren..salam kenal mas Nurhady Sirimorok
BalasHapus